SLEMAN – Pada 31 Juli 2018, Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah berusia 55 tahun. Perguruan ini telah menembus dunia internasional.

Perguruan tersebut memang telah mendunia. Penyebarannya hingga Singapura, Taiwan, Belanda, Jerman, Austria, Aljazair, dan Mesir.

Berikut penuturan tiga di antara Pendekar-Pendekar Tapak Suci yang tinggal di Jogja. Mereka, M. Barie Hadjir Roslin, P.Br (kelahiran 23 Desember 1948), Muhammad Afnan Zamhari, P.Br (kelahiran 25 Oktober 1945), dan H. Sudjono Ragil Santosa, P.Br (kelahiran 30 Juli 1946).

Roslin mengatakan tapak suci berdiri 31 Juli 1963 di Kauman, Jogja. “Setelah dua tahun berdiri baru membuka cabang,” katanya.

Pembukaan cabang (Komda) pertama di Jember pada 1965. “Sejak itu tapak suci terus berkembang,” katanya.

Dia berpesan anggota tapak suci rajin berlatih memperdalam keilmuan. “Kami berharap tapak suci berkembang semakin luas,” ujarnya.

Zamhari mengatakan pada awal berdirinya untuk bisa menjadi anggota seleksinya ketat. “Pada 1964 animo masyarakat untuk mendaftar tinggi. Namun yang diterima hanya 200-an orang,” kenang Ketua Umum PPTS (Pimpinan Pusat Tapak Suci) 2012-2017.

Tapak suci mulai mengenalkan diri pada Muktamar ke-36 Muhammadiyah di Bandung (1965). Saat itu tapak suci menjadi bagian keamanan. Sudjono menambahkan, pada awal berdirinya siswa tapak suci dibagi dua, regu tempur dan regu demonstrasi. “Kini tapak suci menjadi media dakwah Muhammadiyah,” tuturnya. Ketiganya berharap agar tapak suci semakin maju. Namun tetap pada marwah misi dakwahnya. (**/jko/iwa/mg1)