Empat orang berkaus biru melakukan stretching di kawasan Malioboro Rabu (18/7). Yang mereka lakukan memang tidak biasa. Karena itulah mereka menjadi tontonan warga dan wisatawan yang bersantai di bangku taman sepanjang pedestrian Malioboro. Adapun keempat pemuda berprestasi tersebut adalah Jenahara Nasutian, Nanda Mei Sholihah, Agnes Natasya, dan Andre Surya dipercaya membawa obor Asian Games saat diarak mengelilingi Jogja, Kamis (19/7). Mulai Pagelaran Keraton hingga Tugu Jogja.

Keempat pemuda itu memang bukan orang sembarangan. Mereka dipilih berdasarkan seleksi ketat penyelenggara Asian Games 2018. Bicara pembawa obor Asian Games tak bisa dilepaskan oleh pengambil apinya. Keduanya adalah dua legenda olahraga Indonesia yang telah menorehkan banyak prestasi di masanya. Masyarakat Indonesia tentu kenal legenda bulu tangkis Susi Susanti. Peraih medali emas Olimpiade 1992 itu ditunjuk sebagai duta pengambil api Asian Games 2018 dari sumber api abadi di New Delhi, India. Sedangkan legenda tenis lapangan Yustejo Tarik kebagian jatah mengambil api di Mrapen, Purwodadi, Jawa Tengah. Keduanya lantas bertemu di pelataran Candi Prambanan. Di situlah Susi Susanti dan Yustejo Tarik menyatukan dua api dari dua sumber api abadi. Obor api hasil penyatuan itulah yang kemudian dibawa keempat pemuda berprestasi ini mengelilingi Jogja.

Nanda Mei Sholihah, salah satunya. Gadis 19 tahun penyandang disabilitas (para atlet) ini telah menorehkan banyak prestasi di ajang atletik. Beberapa di antaranya, tiga medali emas SEA Para Games 2017. Prestasi cemerlang lain dia torehkan dengan meraih emas di ajang Asean Youth Para Games 2013.
”Karena sudah terbiasa lari, jadi tidak asing lagi. Hanya ada perasaan senang karena bisa dipercaya membawa api Asian Games, yang mana merupakan momen langka,” kata Nanda.

Nanda yang nantinya juga akan berlaga di ajang Asian Para Games berjanji akan memberikan yang terbaik untuk mengharumkan nama bangsa. Termasuk ikut serta dalam menyukseskan semarak Asian Games di Jogjakarta. ”Apalagi Jogja dipercaya sebagai kota pertama kehadiran api Asian Games. Pertama kali membawa api tersebut rasanya bangga,” lanjutnya.

Sama halnya dengan Andre Surya. Pria yang mengharumkan nama Indonesia di bidang animasi ini bertekad menyukseskan penyelengaraan Asian Games 2018. Meski jarak lari yang ditempuh tidak terlalu jauh, hanya berkisar 150 meter, dia butuh persiapan matang untuk membawa api tersebut.
Desainer visual efek yang telah berperan pada produksi banyak film sci-fi action Hollywood, seperti Iron Man, Indiana Jones, Star Trek, Terminator Salvation, dan Transformer ini mengaku tidak ada persiapan khusus untuk mebawa api Asian Games. ”Biasa saja karena saya juga kebetulan suka lari setiap pagi,” ujarnya.

Senada diungkapkan Jenahara Nasution. Bagi perancang busana ternama ini, terpilih sebagai duta pembawa obor Asian Games adalah kesempatan langka dan menjadi perhatian banyak orang. Karena itu dia harus menyiapkan fisik demi suksesnya kesemarakan kirab obor Asian Games 2018.
Demikian pula Agnes Natasya. Pemenang Olimpiade Biologi 2017 ini berharap, keterwakilannya membawa obor bisa mengapresiasi pelajar lain untuk lebih berprestasi. Bagi siapa pun. Dia pun berharap Asian Games kali ini Indonesia bisa bersaing menjadi yang terbaik. ”Harapan saya tentunya Indonesia bisa masuk sepuluh besar sudah menjadi prestasi yang membanggakan,” ucapnya. (bhn/yog/mg1)