JOGJA – Apa bahasa Jawa dari sila kelima Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Bagi seorang pedagang di pasar induk buah dan sayur Ambarketawang Gamping Sleman bernama Buat artinya adalah Gemah Ripah. Buat menilai sila kelima Pancasila itu sama dengan kemakmuran, ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat,
“Bahasa Jawanya, ya, gemah ripah itu,” ujar Buat saat menjawab pertanyaan dari Kepala Pusat Studi Pancasila UGM Dr Heri Santoso dalam sarasehan bertajuk Menggali Tuladha Pengamalan Pancasila di pasar induk buah dan sayur Ambarketawang Gamping pekan lalu.
Dalam sarasehan tersebut juga mengundang Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Hariyono serta mantan rektor UII yang juga anggota Parampara Praja Edy Suandi Hamid.

Hariyono menegaskan, BPIP saat ini berfokus mendalami sistem ekonomi Pancasila. Itu sebagai bentuk pengalaman Pancasila karena Indonesia masuk tatanan ekonomi global yang butuh berbagai kebijakan yang lebih berpihak. Terutama saat masyarakat harus menghadapi serbuan impor sebagai dampak pasar bebas.

“Sistem ekonomi Pancasila ini soko gurunya koperasi, lembaga ini yang harus terus diaktifkan untuk melindungi masyarakat,” tegasnya.
Wakil Rektor Universitas Negeri Malang itu juga mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai produk makanan dalam negeri. Itu sebagai antisipasi jika terjadi gejolak di dunia internasional, masyarakat Indonesia tetap bisa bertahan dengan makanan lokal.

“Kalau ada gejolak terus kita tidak dikirimi makanan dari luar negeri, saat kita lapar tidak bisa apa-apa. Inilah peran penting pasar seperti di Gamping ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Edy Suandi juga menekankan pengamalan Pancasila di pasar-pasar tradisional di DIJ. Menurut dia, pasar tradisional relatif tidak hanya sekedar mengejar keuntungan materi. Ada moral dan nurani yang dipakai para pedagang. Contohnya, lanjut Edy, pedagang berani menjual lebih murah kepada pembeli yang kesusahan. Begitu pula sebaliknya, pembeli bisa membeli dengan harga yang lebih tinggi karena kasihan dengan penjualnnya.

“Bukan semata komersial, tapi semangat ekonomi Pancasila harus dikembangkan betul karena menyemaikan sistem ekonomi yang berwatak kekeluargaan,” katanya. (pra/zam/mg1)