JOGJA – Banyak cara bisa dilakukan guna mencegah pengaruh negatif arus modernisasi bagi anak-anak. Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018, Senin (23/7) menjadi momentum penting untuk mengembalikan karakter anak Jogjakarta yang berbudaya. Di Kota Jogja ada festival dolanan anak. Tujuannya, nguri-uri permainan tradisional. Di Kulonprogo, peringatan HAN diisi dengan kegiatan alam. Seperti dilakukan siswa SDN Kedungrejo, Karangsari, Pengasih. Para siswa diajak jalan-jalan
mengunjungi objek wisata alam dekat sekolah. Yakni, Bukit Sajen dan Tangkil Cliff.

“Kegiatan ini untuk memberikan pendidikan di luar sekolah. Agar siswa mengenal lingkungan,” ungkap Gangsar Sukaryanto, salah seorang guru SDN Kedungrejo.
Mendekatkan siswa dengan alam diharapkan bisa menumbuhkan rasa simpati dan kepekaan anak terhadap lingkungan.
“Peringatan HAN momen yang tepat untuk hal ini. Siswa senang berekreasi, sekaligus belajar mencintai lingkungan,” ujarnya.
Kegiatan itu terbukti mampu menggugah semangat belajar siswa. Irfan Setiawan, misalnya. Siswa SDN Kedungrejo itu mengaku senang bisa melihat pemandangan alam Bukit Menoreh dan persawahan dekat sekolah.
“Pemandangannya bagus, alami. Udaranya sejuk. Ada banyak tempat bermain. Betah main di sini,” ucapnya.

Terpisah, Kabid Pemenuhan Hak-Hak Perempuan, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIJ Wredi Wyandani mengatakan, hari anak diperingati sebagai upaya memenuhi hak anak dengan baik. Selain hak untuk dilindungi, hak sipil yang mendasar mulai akta kelahiran juga harus dipenuhi. “Anak-anak juga harus bebas dari kekerasan, tapi bebas berpendapat,” jelasnya.
Wredi melihat, sejauh ini hak-hak anak di DIJ belum tercukupi. Menurutnya, sarana dan prasarana untuk anak, seperti ruang terbuka, masih kurang. Khususnya di Kota Jogja.

Namun, kegiatan untuk mengisi waktu luang secara sehat sudah mencukupi. Mulai banyaknya sanggar, komunitas, lomba-lomba, dan event bermain. Kegiatan tersebut dapat mendukung kesehatan jiwa dan raga anak-anak. “Secara lahan memang kurang. Karena tidak mudah membuka lahan baru (di Kota Jogja, Red). Tapi penyalurannya lebih banyak ke aktivitas,” ujarnya.
Sementara penggunaan gawai di era sekarang sangat luar biasa di kalangan anak-anak. Menurut Wredi, hal ini tak lepas dari peran orang tua. Banyak orang tua cenderung memberikan ponsel kepada anak supaya tenang dan tidak rewel. Padahal, pemakaian gawai pada anak harus dikontrol ketat. Tanpa mengurangi hak anak mengenal teknologi. “Kalau anak-anak tidak kenal teknologi juga tidak baik. Hanya, jangan sampai anak mengakses hal negatif seperti kekerasan atau pornografi,” katanya. “Makanya, para orang tua juga harus melek teknologi,” sambung Wredi.

Kurangnya area bermain akibat kepadatan permukiman penduduk di Kota Jogja diakui Rona Mentari. Pendongeng sekaligus aktivis anak ini menuturkan, membina anak tak hanya masalah ruang, tapi juga waktu. Menurutnya, kualitas anak bersama orang tua saat ini kian berkurang. Demikian pula waktu bermain mereka. “Karena orang tua sibuk bekerja,” katanya. Anak “dipaksa” mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolah juga tak baik. Waktu bermain anak juga berkurang akibat penggunaan gawai yang kian masif.
Kendati demikian, Rona berpendapat, Jogja sebagai kota budaya bisa menjadi faktor penting tumbuh kembang anak. Sebagai destinasi kunjungan wisatawan, Jogjakarta juga bisa memberikan pengalaman multikultural bagi anak-anak. “Secara nggak langsung anak-anak belajar tentang Indonesia, luar negeri, toleransi, dan kolaborasi,” ungkap penggagas Rumah Dongeng Mentari ini.(tom/tif/yog/mg1)