KULONPROGO – Sejumlah barang milik warga terdampak bandara tersimpan di aula Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Triharjo, Dusun Tambak, Desa Triharjo, Kecamatan Wates. Kamar yang akan ditinggali warga juga sudah disiapkan.

Pengelola Rusunawa Triharjo Sutarto mengaku telah dihubungi Angkasa Pura (AP) I pada Rabu (18/7). Dia diminta menyiapkan ruangan untuk warga penolak bandara. Pada Kamis (19/7) tujuh truk membawa barang-barang milik warga.
Ditempatkan di lantai satu Rusunawa blok A dan blok B. Kunci ruangan dibawa AP I. Barang-barang tersebut berupa perabot rumah tangga, peralatan pertanian, kandang, berikut hewan ternak.

“Pada Jumat (20/7) pagi, ada yang diambil. Di antaranya milik Rejo Utomo atas sepengetahuan AP I yang dipindahkan ke Panjatan. Termasuk barang milik Ponirah, tapi orangnya tidak ke sini,” kata Sutarto.

Ada delapan kamar disiapkan untuk warga penolak bandara. Berada di lantai empat. Sudah dilengkapi fasilitas jaringan air dan listrik, namun belum ditempati.

Masih ada sejumlah warga penolak bandara yang nekad tinggal di area bandara. Mereka tinggal dengan cara mendirikan tenda.

Salah satunya Sutrisno. Dia mengaku ingin tetap bertahan dan tidak ingin pergi. Bahkan ingin menggarap kembali lahan yang diklaim milik mereka kendati sudah diratakan alat berat.

Juru bicara NYIA Agus Pandu Purnama mengatakan lahan bandara sudah berkekuatan hukum tetap. Sudah beralih fungsi untuk pembangunan bandara.

“Kami telah menyewakan 20 rumah kontrakan di Desa Palihan dan Desa Glagah. Bagi warga yang belum tahu di mana barang dan rumah sementara, tanya ke Help Desk,” ungkap Agus. (tom/iwa/mg1)