Akses menuju kampung ini tidaklah sulit. Wisatawan bisa menggunakan mobil, sepeda motor, atau bisa dengan delman. Tetapi paling menantang adalah mencapai lokasi dengan berjalan kaki melewati jalan setapak perkampungan Bojong dan perkebunan warga. Karena akan disuguhi keasrian alam pedesaan.

Di kawasan sekitar 20 hektare itu, kursi-kursi bambu di beberapa sudut tersedia untuk beristirahat wisatawan. Di beberapa sudut terlihat segerombol anak muda yang asyik swa foto (selfie) dengan latar rerimbunan pohon bambu nan hijau. Warga di sana sangat menjaga kebersihan lokasi.

Suasana semakin hangat dengan adanya para penjaja makanan tradisional yang khas, bahkan makanan yang tidak ditemukan di tempat lain. Sebut saja nasi jagung kluban (urap sayur), bubur sayur, jenang, lemper, singkong bumbu ingkung hingga minuman badeg (nira kelapa).

Suprih Prasetyo, Kepala Desa Wringinputih mengatakan, Kampung Bambu Klatakan ini merupakan salah satu destinasi wisata baru yang diinisiasi oleh warga dan didukung PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur. Lokasi ini sengaja memanfaatkan lahan hutan bambu milik warga yang sebelumnya biasa-biasa saja.

“Sebelumnya hanya hutan bambu biasa saja. Warga hanya menebang bambu di sini untuk keperluan bangun rumah, pagar, atau lainnya. Tapi kemudian kami perbaiki, bersihkan, tata, sehingga jadi tempat yang bisa menarik wisatawan,” katanya.

Suprih menyebutkan, selain bisa menikmati keindahan hutan bambu, di kampung ini wisatawan juga bisa menikmati sunset, menyaksikan tempuran (pertemuan) tiga Sungai Tangsi, Progo, dan Gending. Juga ada rumah pohon dan hamparan lahan bisa di lalui dengan mobil offroad.

“Warga bersemangat membangun objek wisata ini, karena harapan ke depan bisa menyokong perekonomian masyarakat,” tuturnya.

Ke depan Suprih mengatakan, setiap wisatawan yang datang akan diminta untuk ikut menaman satu pohon bambu. Hal ini untuk mendukung pelestarian pohon bambu yang semakin minim setiap tahun.

Ika, 31, warga Tegalrejo, Kabupaten Magelang, mengaku kagum dengan kenyamanan dan kebersihan Kampung Bambu Klatakan. Apalagi tempat berbasis alam itu ada sedikit edukasi sekaligus konservasi pohon bambu. Di sana ada lebih dari 10 jenis bambu.

“Jadi kami tidak sekadar berwisata, akan tetapi juga belajar banyak hal tentang alam, seni, budaya, serta konservasi bamboo,” tandasnya. (laz/mg1)