TAKZIAH: Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih memberi ucapan belasungkawa kepada Aiptu Suradi, ayah Muhammad Iqbal. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

BANTUL – Big match yang mempertemukan PSIM dan PSS Sleman Kamis (26/7) tampaknya bakal menjadi laga derby Mataram terakhir yang digelar di Stadion Sultan Agung (SSA). Itu buntut pengeroyokan yang berujung tewasnya seorang penonton bernama M. Iqbal Setiawan, 17. Apa lagi, tidak sedikit warga meminta stadion kebanggaan warga Kabupaten Bantul itu tak dijadikan lagi tempat penyelenggaraan pertandingan yang berpotensi rusuh.

Bupati Bantul Suharsono berjanji bakal melakukan evaluasi menyeluruh. Termasuk berkomunikasi dengan sejumlah pihak terkait seperti kepolisian. Itu untuk mencermati plus-minus penyelenggaraan pertandingan di SSA. Terlebih, Suharsono sebelum partai derby sempat mewanti-wanti tak akan memberikan izin setiap pertandingan yang berpotensi rusuh di gelar di SSA.

”Saya juga menyayangkan adanya penonton yang menjadi korban,” jelas Suharsono mengaku prihatin di Pasar Seni Gabusan Jumat (27/7).

Hal senada diungkapkan Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Menurutnya, pemkab bakal mengumpulkan seluruh stakeholder. Tujuannya untuk merumuskan sistem pengamanan pertandingan yang efektif. Meskipun Kabupaten Bantul hanya menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan.

”Sehingga tidak ada lagi kericuhan yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa,” ujarnya.

Dari penulusuran Radar Jogja, tidak sedikit warga yang menolak SSA dijadikan tempat pertandingan berpotensi rusuh. Seperti pertandingan antara Persebaya melawan Persija, dan PSIM melawan PSS Sleman. Konvoi suporter sebelum dan setelah pertandingan kerap membuat warga waswas. Terlebih, tensi pertandingan yang mempertemukan dua klub musuh bebuyutan kerap melebar hingga ke luar lapangan.

”Sehingga warga tidak merasa nyaman beraktivitas,” keluh Aslam Ridlo, seorang warga Jejeran, Wonokromo, Pleret.

Karena itu, Aslam meminta bupati Bantul berani mengambil kebijakan tegas. Caranya dengan tidak mengeluarkan izin pertandingan.

”Karena kerusuhan suporter sudah terlalu sering,” ketusnya.

Pada bagian lain, Ketua Panitia Pelaksana (panpel) Wendy Umar Senoaji mengaku telah mempersiapkan pengamanan pertandingan dengan maksimal. Itu dibuktikan dengan penambahan personel kepolisian. Dari 350 yang dipersiapkan ditambah menjadi 1.250 personel.

”Kami juga meminta maaf kepada suporter PSS yang tidak bisa melihat pertandingan,” ucapnya. (ega/zam/fn)