JOGJA – Para pemilih pemula, yang terdiri dari siswa setingkat SMA antusias menyambut Pemilu 2019. Salah satu buktinya, ratusan siswa rela antre untuk melakukan perekaman E-KTP di Bangsal Wiyotoprojo Kompleks Kepatihan dalam rangka Gerakan Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan (GISA) Jumat (27/7).

Salah satunya adalah Muhammad Fadli Sidqi. Dibantu ayahnya Yuni Hendrastomo, Fadli melakukan perekaman E-KTP. Tapi karena merupakan down syndrom, saat melakukan tanda tangan hanya digaris saja. Tapi itu sudah dianggap cukup. “Kalau tanda tangan yang rumit kan susah. Ada kekhususan cukup dengan sidik jari,” ujar Yuni.

Diakui oleh karyawan di Fakultas Kedokteran UGM itu salah satu alasan ikut program GISA supaya puteranya tersebut tahun depan bisa menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. Pada 14 Juli lalu, Fadli berusia 17 tahun. Terlebih salah satu syaratnya adalah memiliki E-KTP. “Ya salah satu alasannya juga supaya bisa memberikan suara saat Pemilu nanti,’’ ujar warga Perumnas Condongcatur Depok Sleman itu.

Alasan serupa juga diutarakan Anandita Nabila. Anandita yang baru akan berusia 17 tahun pada Maret tahun depan itu antusias melakukan perekaman data. Siswi SMA 11 Jogja itu mengaku senang pada Pemilu 2019 nanti sudah bisa berpartisipasi. Dia menilai Pemilu itu penting karena menentukan masa depan Indonesia. Terkait pilihannya, Anandita masih belum memutuskan. “Masih cari-cari informasi,” katanya.

Sementara Nesiya juga antusias untuk mencoblos untuk pertama kalinya dalam Pemilu 2019 nanti. Menurut siswa SMA 4 Jogja itu meski hanya satu suara, pilihannya sangat menentukan Indonesia di masa depan. “Suara kita sangat menentukan Indonesia,” katanya.

Kepala Bagian Kependudukan Biro Tata Pemerintahan Setprov DIJ Suhartini mengatakan GISA ini terutama diperuntukan para siswa SMA dan SMK yang pada hari H Pemilu pada 17 April 2019 sudah berusia 17 tahun. Terkait hal itu Disdikpora DIJ sudah diminta untuk mengirimkan data siswa yang tahun depan berusia 17 tahun. Untuk jumlahnya Suhartini hanya menyebut ada ribuan.

Sebagian kami layani di sini, kemudian diikuti kabupaten dan kota yang akan jemput bola ke sekolah,” katanya.

Di luar siswa SMA dan SMK yang akan berusia 17 tahun, hingga Juni 2018 lalu data Biro Tapem di DIJ masih terdapat 40.891 warga yang belum melakukan perekaman E-KTP. Dari total wajib E-KTP di DIJ 2.736.376 orang, yang sudah melakukan perekaman 2.695.485 orang. “Yang belum melakukan perekaman ini termasuk yang akan kami sasar,” katanya. (pra/din/fn)