SLEMAN – Hingga Jumat (27/7), jajaran Polsek Moyudan terus mengumpulkan bukti kasus pria tanpa identitas yang terjun ke Sungai Progo. Pria tersebut diduga mengedarkan uang palsu di Dusun Karangkemasan, Sumberrahayu, Moyudan.

Polisi mengamankan satu lembar uang palsu nominal Rp 100 ribu. Sekilas mirip uang asli. Jika diterawang ada tanda air pahlawan WR Supratman.
“Kami sempat membawa ke Bank BRI. Ternyata palsu. Kami juga amankan Honda Supra X AB 3199 HF,” kata Kapolsek Moyudan AKP Handiko di Mapolsek Moyudan Jumat (27/7).

Dikatakan, pria tersebut sempat membelanjakan uang palsu tersebut. Dia belanja di warung milik Sri Purwaningsih dan warung milik Sri Yanti.
Pria tersebut, di kedua warung tersebut berbelanja produk yang sama. Yakni sebungkus rokok senilai Rp 17 ribu dan mi instan seharga Rp 5 ribu.

“Jadi di masing-masing warung dia berbelanja Rp 22 ribu. Dia mengincar uang kembalian. Bayarnya pakai uang palsu nominal Rp 100 ribu dan satu lembar uang asli Rp 2 ribu. Sehingga mendapat kembalian uang asli Rp 80 ribu,” ujar Handiko.

Aksi pria tersebut terbongkar saat belanja di warung milik Sri Yanti. Anak pemilik warung mengejar pria tersebut. Saat mendekati Sungai Progo dan terjebak jalan buntu, pria tersebut terjun ke Sungai Progo.

“Identitas pemilik motor sudah kami lacak, tapi ternyata sudah berpindah tangan. Akan terus kami lacak untuk mengetahui identitas pria tersebut,” kata Handiko.

Sri Purwaningsih sempat melihat kronjot di motor pelaku. Kronjot tersebut berisi beras, topi, tas, mi instan dan rokok.

Terkait evakuasi pria tersebut, belum ada titik terang. Hingga Jumat sore (27/7) Basarnas DIJ masih menyisir Sungai Progo. Pencarian hingga radius satu kilometer ke selatan.

Dua penyelam bergantian masuk ke dalam arus air Sungai Progo. Selama pencarian, penyelam terkendala jarak pandang. Komandan tim evakuasi Bina Proklamanta mengatakan visibilitas penyelaman nol.

“Keruh, arusnya deras dan beberapa memiliki kedalaman berbeda. Hari ini (kemarin) tim dibagi di air dan darat. Untuk mengantisipasi kami juga memasang jaring agar jika memang tenggelam, tubuh bisa menyangkut di jaring,” ujar Bina. (dwi/iwa/fn)