Kiprah seorang Mahfud MD hingga menjadi tokoh nasional dan kini dijagokan sebagai calon wakil presiden, ternyata banyak dipengaruhi oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Sehingga saat diminta masuk dalam tim penasihat gubernur DIJ atau Parampara Praja, Mahfud tidak bisa menolaknya.

HERU PRATOMO, Jogja

Sejatinya agenda Jumat malam (27/7) di Bangsal Kepatihan Jogja adalah Orasi Kebangsaan serta peluncuran buku “Bunga Rampai Antologi Kebangsaan Jogja-Gumregah untuk Indonesia”. Tapi di awal acara, baik Gubernur HB X maupun Ahmad Syafi’i Maarif lebih banyak membahas sosok Mahfud. Bahkan saat menyebut Mahfud, mantan Ketua PP Muhammadiyah yang akrab dipanggil Buya itu memanggilnya dengan Calon Wakil Presiden RI.

Saat menyampaikan sambutannya, HB X menyebut sosok Mahfud, meski sudah lama di DIJ, masih berpegang pada sikap orang Madura, abantal omba asapo angin atau berbantal ombak dan berselimut angin. Sikap hidupnya dinamis, enerjik serta tabah menghadapi tantangan. “Hidupnya ditindaki dengan kerja keras,” ucapnya.

Selain pekerja keras, HB X juga menilai Mahfud sebagai pekerja dalam diam yang tidak banyak diketahui khalayak. Maka saat dipromosikan menjadi Menteri Pertahanan di era Gus Dur, tidak banyak orang Jakarta yang tahu sosoknya. Tapi, HB X juga mengenang saat Mahfud akan menjadi Menhan, yang tidak memiliki jas resmi yang layak dipakai pejabat tinggi negara.

“Itulah kekurangan sekaligus kelebihan Pak Mahfud. Seperti orang Madura pada umumnya, meski miskin selalu bisa menyisihkan uang untuk berangkat haji,” tutur Raja Keraton Jogja dengan gelar Hamengku Bawono Ka 10 itu seraya tersenyum.

Sebelum memulai orasi kebangsaan, Mahfud pun turut mengenang peran HB X yang turut mendorongnya mau menjadi Menhan pada era Presiden Abdurrahman Wahid pada 1999 lalu. Tidak banyak yang tahu tentang sosok Mahfud. Saat itu HB X menyatakan jika presiden sudah mempercayainya, berarti Mahfud memiliki kelebihan. “Sebelum ke Jakarta, saya sempat curhat ke Pak Sultan,” kenangnya.

Termasuk soal pakaian jas yang disinggung HB X. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menceritakan setelah memantapkan hati untuk bersedia menjadi Menhan, Mahfud pun bergegas ke Galeria Mall untuk membeli jas merk Lawell seharga Rp 400 ribu. Tapi saat dipakai untuk pelantikan, dikomentarai jas itu kurang layak. “Awalnya dikira sudah paling baik, tapi dikomentari tidak layak untuk seorang menteri,” kenangnya.

Esoknya, ada pejabat Istana Negara yang mendatanginya dan mengukur serta membuatkan setelan jas. Menurut Mahfud, saat itu satu stel jas yang dijahitkan untuknya seharga Rp 8,5 juta. Bahkan Mahfud diberi hingga beberapa stel. “Saat itu belum ada aturan gratifikasi untuk pejabat,” ujarnya, disambut tawa hadirin.

Karena pengaruh HB X lainnya, adalah selepas dirinya melepas Ketua MK dan kembali mengajar di Fakultas Hukum UII. Tiba-tiba HB X mengutarakan keinginannya bertemu dengan Mahfud dan memintanya menjadi anggota Parampara Praja. Saat itu pria yang tinggal di daerah Sambilegi, Sleman, ini mengatakan akan datang ke Kepatihan. Tapi, HB X malah yang meminta untuk mendatangi Mahfud di kantornya di UII, Jalan Kaliurang.

“Rakyat biasa didatangi rajanya dan diminta, pasti tidak bisa menolak. Kecuali saya yang datang ke kantor beliau,” kenangnya. Jadilah saat ini Mahfud menjadi Ketua Parampara Praja.

Dalam orasi Kebangsaan yang dibawakan, Mahfud juga mengajak warga DIJ untuk mengembalikan budaya politik ke budaya bahari. Menurutnya, DIJ mempunyai keistimewaan dalam budaya, juga secara sosiologis dan psikologis sebagai pemelihara budaya bangsa. “Budaya bahari itu dalam kehidupan bersama termasuk politik berwatak sangat egaliter, guyub, sportif, dan akseptif pada perbedaan,” paparnya. (laz/fn)