Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2018 menjadi momentum bagi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong tumbuhnya perilaku sehat, ramah lingkungan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya pengelolaan lingkungan. Dengan demikian, diharapkan kepedulian para pemangku kepentingan menjadi meningkat. “Kami juga terus menumbuhkan semangat kerja sama dan sinergitas dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan,” ungkap Kepala BLH DIY Tri Mulyono Sabtu (28/7).

Dua hal itu, lanjut Tri Mulyono, menjadi tujuan peringatan HLH tingkat DIY 2018 yang digelar di Laguna Pantai Trisik, Galur, Kulonprogo, hari Minggu ini (29/7). Menurut Tri Mulyono, HLH 2018 mengambil tema “Kendalikan Sampah Plastik”. Puncak HLH 2018 ini akan dibuka secara resmi oleh gubernur DIY yang diwakili Sekretaris Daerah DIY Gatot Saptadi.

Sebelum puncak acara, BLH DIY telah mengadakan serangkaian kegiatan yang diadakan di kabupaten dan kota se-DIY. Kegiatan itu seperti pembersihan pantai di Pantai Baros, Pengik, dan Pantai Samas pada Rabu (18/7), Sabtu (21/7) dan Minggu (22/7). Kemudian pembersihan sungai di lima tempat yakni Sungai Bedog, Winongo, Code, Gajahwong dan Sungai Kuning. Pembersihan diadakan mulai Maret hingga Oktober mendatang. “Kegiatan itu sebagai upaya mengurangi penimbunan sampah di DIY, termasuk di Kulonprogo yang mencanangkan 2025 bersih dari sampah,” kata birokrat asal Kleco, Surakarta, ini.

Menyinggung penanganan sampah, dari catatan Bank Dunia, produksi sampah rumah tangga di Pulau Jawa, termasuk DIY rata-rata mencapai 0,85 kg per hari. “Itu belum termasuk sampah-sampah di pantai,” katanya.

Sedangkan data di BLH DIY, volume timbunan sampah di DIY pada 2017 mencapai 9.069,91 meter kubik per hari. Dari jumlah itu, penanganan oleh masyarakat melalui bank sampah atau jejaring pengelola sampah mandiri (JPSM) maupun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, kurang lebih 60 persen. “Sampah yang masuk TPA sebanyak 10 persen dan yang belum terkelola sebesar 30 persen,” beber pejabat yang pernah menjabat beberapa kepala biro di lingkungan Setda DIY ini.

Dikatakan, secara nyata 30 persen sampah yang belum terkelola itu berada di lingkungan masyarakat. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Belum semua rumah tangga dan tempat-tempat umum memiliki tempat sampah terpilah.

Di tambah masih banyak masyarakat melakukan pembakaran sampah. Kondisi itu, terang kepala BLH, menimbulkan dampak negatif lingkungan terkait dengan bahan berbahaya dan beracun (B3) maupun dampak lingkungan lainnya. Terutama yang berhubungan dengan tanah, air, udara dan derivatifnya yang menganggu saluran air atau sungai yang tersumbat, sehingga saat musim hujan dapat memicu terjadinya banjir. “Itu tugas kita bersama untuk mengatasinya,” ajaknya.

Puncak peringatan HLH tingkat DIY 2018 diikuti 300 peserta dari berbagai elemen. Acara diawali dengan aksi bersih sampah di Pantai Trisik dan atraksi peragaan busana produk daur ulang sampah. Dalam acara itu juga diserahkan penghargaan kepada pemenang bank sampah terbaik tingkat DIY kategori bank sampah lanjut dan bank sampah pemula. Pemenang Kalpataru tingkat DIY 2018 kategori perintis, penyelamat dan pengabdi serta pembina lingkungan. Pemenang sekolah Adiwiyata tingkat DIY 2018 kategori SD/MI, SMP/MTs dan SMA, SMK serta MA. (*/kus/laz/fn)