(DOKUMEN PRIBADI)

HOBI membuat robot telah membawa Angga Priyatmoko hingga Jepang dan Brasil untuk mengikuti kompetisi. Dia mulai tertarik dengan robotika pada 2011 silam, ketika masih kelas 11 SMK.

“Awalnya nggak pernah tertarik, tapi sejak diajak lomba robotik oleh guru malah jadi tertarik banget dan penasaran,” jelasnya ditemui belum lama ini.
Rasa penasarannya terhadap dunia robotik diteruskan di bangku kuliah. Dia pun mengambil jurusan D3 Teknologi Listrik, konsentrasi Teknik Elektronika di Sekolah Vokasi UGM.

Baginya, yang menarik dari dunia robotik adalah mampu mengolah logika berpikir yang mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. “Ketika menghadapi suatu masalah, kemampuan problem solving menjadi lebih baik,” ungkap pria kelahiran 11 Oktober 1994 ini.

Namun, kompleks dan rumitnya membuat robot menjadi salah satu kesulitan. Menurutnya, mempunyai niat dan kemampuan yang sungguh-sungguh untuk dapat membuat robot yg bermanfaat dan berguna bagi manusia itu penting.
“Kadang orang hanya ikut-ikutan membuat robot tanpa didasari niat yang kuat, jadi di tengah jalan tidak dapat menyelesaikan robotnya,” tuturnya.

Alumni UGM D3 Teknologi Listrik ini sedang merintis sekolah robotik untuk pelajar SD, SMP, dan SMA/SMK. Dia juga aktif mengurus komunitas Ichibot. Sebuah komunitas robotik bidang Line Follower yang sudah berskala internasional. Anggotanya tersebar di beberapa kampus Indonesia, India, Jerman, dan Brasil.

Angga melihat perkembangan dunia robotika di Indonesia kini semakin meningkat. Dibuktikan dengan banyaknya kompetisi nasional maupun internasional dan sekolah robotik berdiri.

“Bahkan dengan memanfaatkan barang bekas, robot dapat dibuat,” tambahnya.
Bersama teman-temannya, Angga telah membuat beberapa robot dalam bentuk mobil pengikut garis antara lain Robot Line Tracer, Robot Transporter, Robot Sumo, dan Robot Education. (tif/ila/fn)