LARANGAN: Kebiasaan warga membuang sampah di sungai masih terjadi. Imbauan jangan membuang sampah sembarangan diabaikan. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)

BANTUL – Kondisi sungai di DIJ sangat memprihatinkan. Kebiasaan warga membuang sampah di bantaran sungai masih terjadi.

Imbauan berupa tulisan larangan membuang sampah dan teguran kerap dipasang di sempadan sungai. Namun kenyataannya, larangan-larangan tersebut diabaikan.

Kegelisah terhadap problematika kondisi sungai tersebut menggelitik sebagian masyarakat DIJ untuk turut berpartisipasi menggerakkan semangat peduli sungai. Mereka membentuk komunitas atau kelompok.

Tanggal 28 Juli merupakan Peringatan Hari Sungai Nasional. Menjadi momentum kelompok pemerhati sungai, mahasiswa, dan stakeholder bergabung dalam satu forum untuk berdikusi dengan tema Sungaiku Martabatku. Sarasehan bertempat di Lapangan Mojo, Donotirto, Kretek, Bantul, Sabtu (28/7)

Menurut Ketua FKWA (Forum Komunikasi Winanga Asri) DIJ sekaligus panitia acara Endang Rosiyani mengatakan peringatan Hari Sungai Nasional 2018 dikemas dalam dua kegiatan. Pertama, sarasehan. Kedua, Sobo Deso Sobo Kali.
Sarasehan mengundang beberapa narasumber. Yakni dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Balai PSDA DIJ dan Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih.

“Kami ingin mempertemukan masyarakat dengan para pejabat untuk mengurangi masalah sungai,” ungkap Endang.

Dia menceritakan wilayah Bantul memiliki sungai hilir yang berasal dari dua daerah yang lebih tinggi, yakni Sleman dan Kota Jogja. Sehingga limbah dan sampah mengalir di sungai yang ada di Bantul.

Sedangkan Sobo Deso Sobo Kali merupakan kegiatan edukasi dengan sasaran karang taruna muda. Mereka diajak menelusuri sungai dan diberi edukasi mengenai bagaimana memantau kualitas air, mengenali ekosistem sungai, melihat daya rusak air dan pengelolaan air bersih.

Abdul mengatakan Bantul memproduksi sampah setiap tahun sebanyak 600 ton. Sampah yang bisa dikelola sekitar 200 ton. Sisanya terbuang ke sungai.
“Sebanyak 200 ton sampah sebagian sudah di-reduce dan di-recycle. Sebagian sudah diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Yang lain ke mana? Banyak dijumpai di sungai,” kata Abdul.

Dia mengimbau masyarakat mengelola lingkungan sekitar. Termasuk mengelola kebersihan sungai.

“Karena menjaga kebersihan sungai itu adalah budaya. Jadi harus menumbuhkan kesadaran masyarakat. Mari bersama-sama menjaga lingkungan sungai agar tetap lestari,” kata Abdul. (*/cr6/iwa/fn)