Pertama kali melihat sosok Almaas Rosi Nur Amalia, terlintas sosok anggun, cantik, dan feminim. Namun siapa sangka perempuan berusia 21 tahun ini memiliki hobi yang cukup ekstrem. Olahraga tembak reaksi menjadi kegemarannya hingga saat ini.

DWI AGUS, Bantul

Kejuaran menembak Kapolda Cup DIJ 2018 di Lapangan Mako Brimob Gondowulung, semakin bermakna dengan hadirnya Almaas Rosi Nur Amalia. Sosok perempuan ini mampu mencuri perhatian pengunjung yang hadir. Terlebih setelah dia beraksi menembak setiap target yang terpasang.
Bagi perempuan kelahiran Mei 1997 ini, olahraga tembak reaksi masih tergolong baru. Dia baru menggeluti olahraga ekstrem ini sejak akhir 2016. Kala itu bukan untuk menggeluti, namun sekadar mengikuti keinginan sang ayah.
“Sebenarnya tidak ada niat untuk mendalami olahraga menembak. Cuma waktu itu minta uang saku ke papa. Tapi baru dikasih kalau mau ikut menembak. Jadi memang berawal dari iseng saja,” kenangnya.

Berawal dari syarat uang saku ini Almaas justru ketagihan. Sejak itu dia mulai menggeluti hobi ini secara serius. Meluangkan waktu berlatih hingga tiga kali dalam seminggu. Alhasil, saat ini dia telah memiliki keahlian khusus dalam menembak.

Mahasiswi Jurusan Manajemen UPN Veteran Yogyakarta ini mengaku pada awalnya dia sama sekali tidak tertarik olahraga ekstrem ini. Hanya saja memang sang ayah telah menggeluti olahraga ini sejak 2002.
Layaknya remaja pada umumnya, Almaas awalnya tumbuh dengan hobi yang wajar. Namun begitu mengetahui serunya olahraga menembak, dia langsung beralih. Baginya menembak tidak hanya berbicara target dan senjata yang digunakan.

“Ini melatih kesabaran, disiplin dan lebih teliti dalam mengatur emosi. Karena salah sedikit atau tidak fokus bisa meleset dari sasaran. Makin emosi gregetan makin nggak fokus. Ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi pelajaran hidup,” katanya.

Olahraga menembak memang menuntut sosok yang disiplin. Seluruh perlengkapan harus dikenakan sebelum beraksi. Mulai pengaman badan, sarung tangan, kacamata hingga senjata. Selongsong senjata juga harus senantiasa bersih agar tidak macet saat digunakan.

Meski tergolong baru, Almaas memiliki pistol sendiri. Jenisnya SVI Invinity yang kerap menemaninya saat menembak. Senjata buatan Amerika Serikat ini turut mengantarkan Almaas ke sejumlah kejuaraan.
“Iya, kalau berlatih harus benar-benar safety. Kuncinya disiplin diri, termasuk perawatan senjatanya. Jika sempat biasanya saya bersihkan sendiri. SVI Infinity sudah atas nama saya sendiri,” kata alumni SMAN 7 Jogja ini.

Almaas berlatih setidaknya minimal dua kali dalam seminggu. Porsi ini akan meningkat begitu mendekati masa perlombaan. Tidak tanggung-tanggung, porsi latihan meningkat hingga empat kali. Latihan ini masih ditambah dengan penggemblengan fisik.

Untuk kelas ladies, Almaas selalu menduduki peringkat satu regional DIJ dan Jawa Tengah Nomor Nasional. Sementara kelas overall, ia pernah masuk lima hingga 10 besar. Peringkat ini tentu menjadi cambukan bagi dia untuk meraih prestasi di tingkat nasional.

“Target agar terus bisa bersaing di tingkat regional maupun nasional. Kalau kelas overall itu campur sama cowok juga lombanya. Pernah juga ikut partisipasi di PON,” katanya.

Selama menjalani dunia menembak, tidak hanya sekadar suka. Beragam cerita pilu juga pernah dia alami. Termasuk terkena pantulan peluru saat berlatih maupun mengikuti perlombaan. Pastinya sakit, karena selongsong peluru sangat panas begitu terlontar.

Pernah suatu waktu selongsong peluru terlontar dari senjatanya. Bukannya jatuh ke bawah, selongsong itu malah mengarah ke belakang. Tanpa disangka selongsong masuk melalui sisi kacamata. Untungnya tidak mengenai mata.
“Sampai melepuh karena kena hidung. Masuk ke kacamta masih dalam keadaan panas dan akhirnya kena kulit. Enggak takut, justru semakin semangat mendalami olahraga ini,” ujarnya. (laz/mg1)