GUNUNGKIDUL – Bangunan semipermanen kembali menjamur di sepanjang pantai selatan di Gunungkidul. Tak lama setelah gelombang laut kembali normal. Padahal, pemkab berencana melakukan penataan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki membenarkan bahwa para pedagang mulai membangun kembali lapak baru. Setelah nyaris seluruh lapak di sepanjang pantai rusak akibat diterjang gelombang tinggi beberapa waktu lalu. Kendati begitu, Edy mewanti-wanti para pedagang tak perlu menuntut ganti rugi bila pemkab melakukan penertiban. Menyusul penataan pantai selatan.

”Sehingga bagi yang mau membangun harus membuat surat perjanjian,” tegas Edy di sela rapat koordinasi (rakor) penanganan pascagelombang tinggi di ruang rapat II Setda, Kamis (2/8).

Ada sejumlah pihak terkait yang diundang menghadiri rakor ini. Antara lain, pemerintah desa, kecamatan, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Menurutnya, ada beberapa persoalan penting yang menjadi pembahasan dalam rakor ini. Di antaranya keberadaan bangunan semipermanen di sepanjang pantai.

”Terutama di garis sempadan pantai,” ucapnya.

Keberadaan bangunan di garis sempadan, Edy melihat sangat berisiko. Berkaca dari fenomena gelombang tinggi akhir Juli lalu, seluruh bangunan di 13 pantai di Gunungkidul rusak berat.

”Ada 451 kepala keluarga yang terdampak,” sebutnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hari Sukmono mengakui bahwa pemkab serius menata pantai selatan. Bahkan, pemkab segera mengajukan surat permohonan penyusunan masterplan kepada Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

”Masterplan ini diperlukan untuk pengembangan pariwisata,” katanya. (gun/zam/mg1)