SEPERTI kota kecil lain di Pakistan, Gwadar juga tidak tertata apik. Banyak debu dengan deretan toko di kiri kanan jalan. Makin mendekati pelabuhan, kian padat toko dan permukiman penduduk.

Ada beberapa deretan bank, pertokoan, warung sampai hotel kelas melati. Yang membuat saya heran banyak bus dari berbagai daerah mulai Islamabad, Karachi, Lahore, Queta, dan kota besar lainnya melayani rute ke kota ini. Itu terbukti dengan banyak bus dengan jurusan Gwadar seperti tertera dalam badan bus tersebut. ‘’Gwadar kota bisnis. Banyak pedagang luar kota datang ke sini. barang dari Iran, Qatar, Uni Emirat Arab bisa masuk lewat pelabuhan ini. Makanya ramai,’’ kata Abdul Somad, sopir travel yang membawa penulis serta dua rekan mahasiswa asal Indonesia, Abdul Kholik (Alek) dan Ahmad Faruki.

Abdul Somad wanti-wanti kami agar tidak keluar mobil. Semua akan diurusnya. Termasuk mencari hotel. Somad dan Sahid, sopir satunya, keluar hotel mencari informasi.

Tapi, semua hotel penuh. Saya menyarankan tinggal di rumah keluarga Somad saja. Tapi, Somad dengan halus menolak. Menurutnya, tamu atau orang luar tidak boleh menginap di rumah keluarga yang ada perempunnya. Itu adat dan aturan Pakistan yang harus dijaga.

Akhirnya, kami jalan menyusuri kampung dan Kota Gwadar yang tidak beraturan. Jalannya sempit seperti masuk kampung.

Rumah warga Pakistan maupun Gwarda umumnya tertutup pagar tembok tinggi hingga orang tidak bisa melihat bagian dalamnya.

Selain mencari hotel, kami juga mencari kantor imigrasi untuk meminta stempel paspor keluar Pakistan. ‘’Tenang saja. Kami urus semua. Pokoknya, semua harus legal. Kalau tidak, selain berbahaya juga membahayakan perjalanan Anda. Kami tidak mau terjadi apa-apa pada tamu,’’ ujar Somad.

Mobil juga diarahkan ke Pelabuhan Gwadar. Banyak perahu nelayan dan kapal barang kecil berlabuh di dermaga itu. Sahid dan Somad juga mencari tahu kepada nelayan kemungkinan adanya kapal disewa. Tapi, nelayan yang ditanya bertanya balik dan ragu kalau membawa orang asing. Apalagi, yang ilegal.

‘’Mereka bisa berbahaya kalau membawa penumpang ilegal. Sebab, di tengah laut akan dicegat patroli tentara dan polisi laut Pakistan,’’ ujar Somad menirukan nelayan tadi.

Di pelabuhan Somad juga menanyakan keberadaan kantor imigrasi di kantor polisi laut setempat. Meski Gwadar sudah diobok-obok sampai pelabuhan, kantor imigrasi tak kami temukan.

Sebaliknya, setelah tanya kantor imigrasi itulah mulai timbul masalah. Belakangan kami tahu. Rupanya ada intel yang membuntuti mobil kami saat menuju kota mencari hotel.

Sesampai di hotel, Somad menyuruh kami cepat-cepat masuk. Tujuannya, selain agar tidak mengundang perhatian warga sekitar, juga lebih aman. ‘’Cepat..cepat langsung naik ke kamar,’’ pinta Sahid. Sedangkan barang bawaan nanti akan dibawa Sahid.

Meski hanya hotel kelas Melati, kondisinya cukup besih. Namanya Sahil Guest House. Berlokasi di Opposite Jama Makki Masjid, Airport Road, Gwader, Balochistan, Pakistan. ‘’Jangan keluar kamar hotel kalau tidak ada kami. Berbahaya,’’ pesan Abdul Somad.

Ternyata benar, baru sepuluh menit leyeh-leyeh di kamar hotel, mendadak dua orang masuk diantar penjaga hotel. Mereka intel. Mengecek dokumen kami.
Setelah tanya ini itu dan mencatat nama, nomor paspor, petugas tadi keluar hotel. Tapi, hanya berselang beberapa puluh menit datang lagi petugas intel lain.

Belakangan kami tahu namanya Akmad Zan, kepala Imigrasi Gwadar. Orangnya masih muda, sekitar 35 tahun. Dia mengenakan pakaian sharwal games khas Pakistan. Akmad Zan datang pukul 20.00.

Zan ditemani satu petugas yang sebelumnya ikut memeriksa kami. Orangnya sudah berumur lebih 50 tahun. Jenggotanya tampak memutih semua. Dari balik bajunya tersembul pistol.

Berbeda dengan petugas sebelumnya, Zan tampak pintar dan penuh selidik. Dia fasih berbahasa Inggris. Dia hanya berbasa basi sebentar lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh sambil duduk di tempat tidur.

Karena saat itu penulis sedang makan dan hanya mengenakan sarung, Zan memulai bertanya pada Alek, temanpenulis, mahasiswa Jamiah Binoria, Karachi yang sudah lima tahun belajar jurusan hadis. Alek yang hanya membawa sejenis kartu pelajar atau kartu mahasiswa menjelaskan bahwa dirinya hanya mengantar penulis sampai Gwadar untuk menyeberang ke Oman.

Zan tak percaya begitu saja. Alek pun disuruh membaca beberapa ayat Alquran, sesuai jurusan yang ditekuninya di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Karachi. Alek pun menuruti permintaan Zan. Dia melafalkan keras-keras beberapa surat Alquran yang diminta Zan. Zan pun menyimak benar setiap lafalan Alek seraya tersenyum kecut. ‘’Awak lupa ayat yang terakhir,’’ ujar Alek yang asal Medan itu cengingisan.

Zan juga mencerca mengapa Alek tidak bawa paspor. Alek menyatakan, paspor ditahan di ponpes agar tidak hilang. Sebagai gantinya dia dibekali kartu indentitas pelajar.

Tak percaya, Zan minta diteleponkan kepala ponpes, di mana Alek jadi salah satu muridnya. Alek pun menelepon gurunya. Setelah itu Zan mengobrol dengan guru Alek. Baru setelah itu Zan sedikit percaya. Tapi, beberapa menit kemudian Zan kembali menelepon guru Alek untuk konfirmasi ulang.

Saat Zan menginterogasi Alek, petugas yang satunya memeriksa semua barang bawaan kami. Semua barang dalam tas dikeluarkan. Semua foto, kartu pelajar, dokumen perjalanan, paspor diperiksa.

Bahkan celana dalam juga diacak-acak. Jadilah seisi kamar hotel berantakan. Tapi, petugas tadi tak peduli. Pokoknya, semua barang dikeluarkan. Baru setelah itu dia memilih barang yang mencurigakan. Dikumpulkan untuk diteliti Zan.

Giliran penulis diperiksa. Pemeriksaan paling lama pada paspor yang banyak cap visanya dari berbagai negara. ‘’Kamboja, India?’’ tanyanya. Ya, jawab penulis. Zan terus meneliti paspor. Cukup lama, sekitar 10 menit. Dia terus membolak balik paspor dan meneliti kelengkapan dokumen satu per satu.

Dalam hati penulis merasa bersyukur, sebelum ke Karachi lebih dulu memperpanjang visa Pakistan yang habis 23 Oktober 2011. Kalau tidak, tentu akan menimbulkan masalah baru. Apalagi penulis berada di Gwadar Kamis, 27 Oktober 2011. (yog/bersambung)