GUSTI Mangku, sapaan akrab GKR Mangkubumi menyetir sendiri mobil Honda Mobilio AB 1818 QH warna silver di kantor Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) DIJ kompleks Gunungsempu, Kasihan, Bantul, Kamis (2/8). Kehadirannya untuk memberi pembekalan peserta pendidikan dan latihan kepemimpian (Diklatpim) IV angkatan 8. “Saya boleh parkir di sini?” tanyanya kepada satpam setelah berputar-putar mencari lokasi kosong. Tak berpa lama acara pun dimulai. Sejak lama Gusti Mangku menaruh konsen kuat terhadap ekonomi kerakyatan. Perekonomian DIJ, kata dia, harus tumbuh dan berkembang bersama kekuatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Harus diingat DIJ itu nyunggi (memikul) Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Gusti Mangku, investor yang datang ke Jogja harus mengikuti kehendak masyarakat DIJ. Bukan sebaliknya, pemodal yang mengatur. Gusti Mangku ingin perekonomian DIJ maju bersama UMKM. Sebab, UMKM di DIJ terbukti menjadi pilar kekuatan ekonomi yang ampuh. “UMKM yang harus tumbuh dan berkembang. Bukan investor (pemodal),” katanya.

Sukses membangun ekonomi dengan kekuatan UMKM dapat belajar dari Swis. Negara itu perekonomiannya berkembang pesat bukan di tangan pemodal. Tapi oleh kekuatan koperasi. “Kita harus perkuat koperasi. Pasar-pasar tradisional tidak boleh hilang dan sirna. Harus kita pertahankan dan dikembangkan,” pintanya.

Selain bicara ekonomi, ibu dua anak ini juga prihatin dengan perkembangan remaja di DIJ. Khususnya terkait dengan fenomena klithih. Kelompok geng remaja dewasa ini berbeda dengan era-era Gusti Mangku saat muda.
Putri raja yang terlahir dengan nama Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurmalitasari ini mengaku paham dengan geng-geng remaja di era 1980-atau 1990-an silam. “Kala itu geng-geng sekadar bentuk kenakalan remaja. Tidak ada upaya mencederai atau menghilangkan nyawa orang lain seperti sekarang ini,” sesalnya.

Soal kepemimpinan, Gusti Mangku berpesan agar para pegawai negeri sipil berpikir kreatif dan bertindak inovatif. Salah satu anggota Parampara Praja DIJ itu mengutip pidato yang beberapa kali disampaikan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X saat pelantikan pejabat. “Kita harus punya daya saing,” ajak Gusti Mangku, sebagaimana tertulis dalam makalahnya Kepemimpinan Inovatif di Era Modern.

Kepada peserta Diklatpim IV, Gusti Mangku juga menyampaikan sejarah terbentuknya DIJ sejak kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono I. Menurut dia, tanah di IJ merupakan milik Sultan Hamengku Buwono I.

Para leluhurnya dari Hamengku Buwono I hingga Hamengku Buwono IX mengajarkan beberapa hal menyangkut kepemimpinan. Ada 11 asas kepemimpinan yang diajarkan Hamengku Buwono I. Kepemimpinan itu dengan mengadopsi watak alam seperti bumi, matahari, bulan, angina, api dan lainnya. “Bumi itu punya sifat ikhlas. Mau menerima siapa pun,” ungkapnya.

Pendiri Keraton Jogja itu juga punya ajaran kepemimpinan ing ngarsa sung tuladha. Soal ini, salah satu peserta diklatpim Sumantri mempertanyakan karena mirip dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Sedangkan Soleh Anwari bertanya soal visi Menyongsong Abad Samudera Hindia. Sebab, visi sebelumnya Among Tani Dagang Layar belum sepenuhnya tuntas.

“Tidak perlu bingung, visi itu berkesinambungan. Semua itu merupakan kesinambungan dari visi dan misi gubernur sejak 2004 silam,” jelas Gusti Mangku. (yog/mg1)