JOGJA –Perbedaan gaji yang diterima awak Transjogja mulai menimbulkan persoalan. Mereka cemburu dengan kru Transjogja di bawah PT Anindya Mitra Internasional (AMI) yang dianggap lebih sejahtera. Apalagi gaji karyawan Transjogja di bawah kendali PT Jogja Tugu Trans (JTT) tak pernah naik selama empat tahun berturut-turut.

Direktur PT JTT Agus Andrianto tak menampik tudingan kru Transjogja. Kendati demikian, sulit bagi PT JTT untuk memenuhi tuntutan karyawan saat ini.

Agus mengibaratkan kondisi PT JTT saat ini ibarat pasien rumah sakit. Masih memerlukan obat untuk sembuh. Harus bertahan dengan segala keterbatasan yang ada. Masalah keuangan yang sedang dialami PT JTT menjadi alasan. Belum lagi masalah kelayakan armada. Dari 74 bus yang dimiliki PT JTT, menurut Agus, hanya 60 unit yang beroperasi. Sisanya tak bisa mengaspal karena keterbatasan anggaran dan persoalan regulasi kalaikan jalan.
Agus berharap semua bus milik PT JTT bisa beroperasi pada 2019. Dengan begitu, performa perusahaan akan meningkat. Demikian pula kesejahteraan karyawan. “Kalau busnya semakin banyak, peluru saya untuk bermanuver tentu makin banyak pula,” dalihnya.

Agus memastikan tetap akan membuka ruang dialog dengan seluruh awak Transjogja untuk mencari solusi bersama. Hanya, untuk saat ini Agus meminta karyawannya memahami situasi dan kondisi perusahaan. Dia berjanji suatu saat pasti akan menaikkan gaji kru Transjogja. Namun, Agus meminta para kru bersabar. Agus menegaskan, performa PT JTT harus tetap terjaga. Agar jangan sampai setelah gaji karyawan dinaikkan, perusahaan justru tidak bisa beroperasi. “Manajemen tidak akan menutup mata kok,” katanya.

Sementara itu, kru Transjogja PT JTT tak mau larut terlalu lama dalam kecemburuan. Karena itu kemarin (3/8) mereka ngeluruk kantor DPRD DIJ untuk mengadukan nasib. Totok meminta dewan DIJ kembali campur tangan menyelesaikan masalah kesejahteraan kru Transjogja PT JTT. “Pada 2014 (gaji, Red) pernah naik Rp 846 ribu. Itu pun kami harus ke sini (DPRD) dulu,” kata Ketua Serikat Pekerja Kur PT JTT Totok Yulianto.
Totok lantas membeberkan perbedaan pendapatan kru Transjogja PT JTT dan awak Transjogja PT AMI.

Menurutnya, gaji pramudi (sopir) Transjogja PT JTT saat ini Rp 3.007.000 per bulan. Sedangkan pramudi PT AMI Rp 3,5 juta. Perbedaan itu tampak begitu mencolok. Padahal PT JTT lebih dulu berdiri dan mengelola Transjogja sejak 2008. Atau ketika pertama kali Transjogja beroperasi. “Kenyataannya, gaji OB (office boy) dan satpam bahkan masih ada yang di bawah UMK. Ini kan ironis,” kecamnya.
Melihat perjalanan Transjogja, Totok menilai, seharusnya gaji kru PT JTT lebih tinggi dibanding PT AMI.
Karena itu Totok minta gaji pramudi dinaikkan sekitar Rp 938 ribu per bulan. Sedangkan pramugara naik Rp 741 ribu dari gaji saat ini sebesar Rp 2.375.540.
Namun, setiap kali karyawan memohon kenaikan gaji, kata Totok, manajemen PT JTT selalu menolak dengan alasan tidak ada kenaikan bantuan operasional kendaraan (BOK). “Sudah empat kali UMK mengalami kenaikan, tapi gaji kami tidak pernah naik,” keluhnya.

Totok merinci, kru Transjogja PT JTT terdiri atas pramudi, pramugara, dan pramugari. Totalnya 273 orang. Sedangkan staf, OB, satpam, dan kru mekanis berjumlah 60 orang.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD DIJ Dharma Setiawan menjelaskan, PT JTT memang mitra pertama operator Transjogja. Dalam perkembangannya, PT AMI selaku badan usaha milik daerah (BUMD) Pemprov DIJ turut dilibatkan. Dengan harapan, operasional Transjogja bisa lebih baik. (tif/yog/mg1)