SLEMAN – Macapat merupakan seni sastra Jawa yang ditembangkan. Ada yang mengartikan macapat sebagai maca papat-papat (membaca empat empat). Menurut Ranggawarsita dalam Serat Mardawalagu, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu. Artinya melagukan frasa keempat.

Macapat merupakan karya sastra klasik Jawa. Termasuk dalam adat orang Jawa. “Macapat bukan hanya sekadar bernyanyi. Tapi lebih dari itu, ada makna di baliknya,” kata salah seorang peserta lomba macapat, Bardani, 62, dari Kecamatan Minggir.

Menurut dia, di dalam setiap bait macapat mengandung petuah kehidupan. Sehingga dalam menembangkan macapat tidak bisa sembarangan.

Kakek delapan cucu tersebut sudah tidak ingat kapan tepatnya dia mulai menyukai macapat. Sudah sejak usia muda dia dikenalkan macapat oleh keluarganya. Baginya, macapat merupakan bagian dari hidupnya.

Dikatakan, dengan menembang macapat ada kepuasan tersendiri. Bardani yang memiliki enam anak tersebut menganggap macapat dapat membuat dia bersemangat mengubah suasana hati.

“Jadi, dibanding lagu saat ini, saya lebih senang nembang dan karawitan,” kata Bardani.

Satu per satu dari 68 peserta yang menggunakan pakaian adat Jawa maju nembang. Dengan berjalan jongkok dan memberikan salam kepada dewan juri sebagai bentuk hormat, mereka mulai menembang.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman Aji Wulantara mengatakan pihaknya bertugas melestarikan budaya. Macapat sebagai kebudayaan yang harus dilestarikan.

“Bukan hanya generasi tua, tapi generasi muda juga harus mengenal akar budayanya,” kata Aji.

Jika tidak dikenalkan pada generasi muda, dia khawatir pada akhirnya kebudayaan asli Jawa ini punah. “Nantinya ada juga lomba macapat untuk tingkat pelajar,” kata Aji. (har/iwa/mg1)