KOMPAK: Peserta lomba masak bakmi tunanetra semangat meracik sayur dan bumbu pelengkap di acara peringatan HUT ke-27 Mardi Wuto. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

Catur buta cukup popular bagi kalangan atlet profesional. Pertandingan di mana para pemain tak melihat atau menyentuh bidak-bidak di papan catur. Apa bedanya dengancatur tunanetra? Berikut gambarannya.

IWAN NURWANTO, Jogja

WAJAH Abdul Wahid tampak semringah meski harus menerima kekalahan dari lawannya. Pikirannya pun kembali plong. Maklum selama beberapa menit sebelumnya dia cukup tegang ketika bertanding catur. Mengingat posisi bidak-bidak yang dijalankannya di papan catur tunanetra cukup menguras energi Abdul. “Kalah itu biasa. Bisa ngumpul bareng dengan teman-teman (tunanetra, Red) membuat saya gembira,” ujar Abdul usai lomba catur tunanetra di kantor Badan Sosial Mardi Wuto, kompleks Yap Square, Jalan C. Simanjuntak, Kota Jogja.

Catur buta beda dengan catur tunanetra. Pertandingan catur tunanetra menggunakan papan khusus yang tiap kotaknya terdapat lubang untuk menancapkan bidak. Di ujung atas bidak juga terdapat tanda timbul untuk membedakan satu dan lainnya. Setiap kali menjalankan bidak, para pemain harus meraba lubang pada setiap kotak yang akan ditancapi. Beda dengan catur buta, yang biasanya dimainkan pecatur profesional. Para pemain ditutup matanya dan tak boleh menyentuh bidak. Adapun kesamaan catur buta dan tunanetra, para pemainnya dituntut memiliki ingatan yang kuat. Selain harus piawai mengatur strategi, memori setiap pemain menjadi modal penting untuk memenangkan pertandingan. Agar strategi yang dijalankan tetap on the track.

“Setiap langkah harus benar dan diingat-ingat. Kalau sampai salah langkah bisa kalah. Apalagi ada batas waktu melangkahnya,” ujar Supriasih, penyandang tunanetra asal Gunungkidul.

Perwakilan Pengprov Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DIJ Bimo Triardi Wijaya mafhum dengan rasa penasaran Radar Jogja yang berusaha mencari tahu keunikan catur tunanetra. Menurut Bimo, perbedaan utama catur tunanetra dengan pertandingan reguler hanya pada alatnya. Baik papan maupun bidak-bidaknya. “Kalau aturannya kurang lebih sama,” jelas Bimo di sela menyaksikan lomba catur tunanetra di kompleks Yap Square. Tanda khusus pada setiap bidak untuk mempermudah setiap pecatur membedakan mana raja, kuda, menteri, atau benteng.

Sebagian pemain catur tunanetra ada yang ditutup matanya. Bimo mengatakan, penutupan mata berlaku bagi mereka yang tidak mengalami kebutaan total. Dengan begitu perlombaan tetap terjamin fairplay-nya. Juga mencegah kecurangan.

Ketua Badan Sosial Mardi Wuto Sri Budiastuti Sunandar mengungkapkan, lomba catur tunanetra digelar demi membuat keseruan bagi para penyandang cacat mata. Sekaligus melihat kemampuan anak didik Mardi Wuto dalam permainan catur. Selain catur, acara peringatan HUT ke-27 Mardi Wuto juga dimeriahkan lomba memasak bakmi Jawa dan membuat karya tulis.

Lomba masak bakmi Jawa tak kalah seru. Para peserta terbagi dalam bebeapa tim. Mereka semua penyandang tunanetra harus bekerja sama. Mulai menyiapkan bahan baku, meracik bumbu, menggoreng nasi di atas wajan, hingga penyajiannya. “Masakan saya pedas doang. Wah, besok lagi harus lebih banyak belajar,” ujar Amanda Odeningtyas, peserta asal Pati, Jawa Tengah.

Rizka Adi Saputri, teman satu tim Amanda, mengakui kekurangan dalam menu bakmi yang mereka buat kemarin. “Kami susah menentukan takaran bumbu yang pas. Tapi asyik karena bisa memasak sendiri,” katanya.

Sedangkan untuk lomba karya tulis, setiap peserta mengetik naskah menggunakan komputer. Hampir sama dengan catur tunanetra, peserta lomba karya tulis harus fokus dan cermat mendengarkan setiap instruksi komputer lewat earphone. (yog/fn)