PURWOREJO – Suguhan karya batik tulis memantik harapan Bupati Purworejo Agus Bastian untuk mendorong munculnya pembatik-pembatik berusia muda. Selama ini perajin batik didominasi kalangan lanjut usia dan jarang ditemui anak muda yang menggeluti dunia ini.

Hal itu disampaikan bupati saat berada di salah satu tempat produksi batik di Kelurahan Cangkrep Kidul dalam agenda Bupati Saba Desa, Senin (6/8). Di lokasi itu, bupati melihat pembatik yang dipertontonkan adalah wanita lansia berusia 73 tahun.

“Ini menjadi PR kita bersama, selama ini banyak orang tua yang membuat batik. Kita harus mendorong munculnya perajin batik berusia muda,” ujar Agus.

Bupati berharap para pengusaha batik yang melibatikan perajin tradisional untuk mengedukasi anak-anak muda untuk lebih mengenal batik. Dari perkenalan itu diharapkan mendorong anak muda untuk tertarik dan akhirnya berkecimpung dalam produksi batik.

“Kami ingin batik itu tetap lestari dan perlu keberlanjutan. Yang sepuh diajak untuk bisa menularkan ke yang muda,” tambahnya.

Dengan turunnya anak-anak muda menekuni batik, dia melihat harapan cerah pengembangan batik akan meningkat. Setidaknya kemampuan anak muda menangkap pasar akan memudahkan mereka menginovasi batik yang digarap.

“Potensi batik di Purworejo itu luar biasa dan banyak desa yang menjadi sentra batik. Ini harus terus kita lestarikan dan saya minta dinas terkait untuk melakukan pedampingan dan pelatihan,” katanya.

Dalam kesempatan itu pula bupati sempat mencetuskan perlunya seragam batik secara bersama di lingkungan PNS di Kabupaten Purworejo. Adanya terobosan-terobosan seperti itu diyakini akan menjadikan masyaraka kian giat memproduksi.

Selain itu, bupati juga berencana mendatangkan pelatih handal dari luar kota untuk meningkatkan kemampuan inovasi para pembatik. Dengan hal itu, batik kuno tetap ada, namun batik-batik kontemporer juga akan lahir. (udi/laz/mg1)