GUYUB: Warga Jogja dan wisatawan Malioboro mencicipi nasi tumpeng dengan pincuk.

JOGJA –Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X bagi warga Jogjakarta menjadi sosok paling ditunggu masyarakat Jogjakarta pada acara dhahar kembul di sepanjang Jalan Malioboro Selasa malam (7/8). Buktinya, saat raja Keraton Jogjakarta itu hadir sekitar pukul 19.00 puluhan warga yang lebih dulu berada di lokasi dhahar kembul berebut duduk lesehan di dekat panggung kecil tempat HB X dan para tamu undangan.

Turut hadir di acara budaya itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua Parampara Praja DIJ Mahfud MD, serta para rektor dari kampus UGM, UII, UPN, dan Widya Mataram.

Menurut HB X, dhahar kembul merupakan karakteristik masyarakat Jogja. Selain itu sebagai momentum bagi pemimpin untuk duduk bersama masyarakat.

“Saya punya harapan pada kawula Ngayogyakarta. Jangan mengkhianati ideologi bangsa kita. Sampai akhir Jogjakarta tetap bagian dari NKRI,” ujar HB X yang hadir didampingi GKR Hemas.

HB X menegaskan, kekuatan Jogjakarta adalah kebersamaan. Baik pada waktu bencana maupun berbagi rasa bahagia. Karena itu, HB X berharap, karakter kebersamaan itu harus terus dilanggengkan dalam kehidupan bermasyarakat. “Saya malu kalau ada tetangga bermasalah lalu terjadi kekerasan. Apa yang jadi masalah bisa dikomunikasikan,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu HB X juga berpesan kepada para pejabat pemerintahan dan pemimpin lembaga lainnya untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan di Jogjakarta. “Di sini ada wali kota dan bupati maju dengan bendera sendiri. Tapi tolong bendera yang lain juga diperhatikan,” pesannya.

Sementara Mahfud MD menuturkan bahwa Jogjakarta adalah tempat untuk menjaga nilai-nilai budaya bangsa. Alasannya, cagar budaya yang paling nyata saat ini ada di Jogjakarta. “Mulailah dari Jogja untuk mengembalikan jati diri bangsa, gotong royong, dan bersatu,” ajak sosok yang pernah menjabat ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Koordinator acara Widihasto Wasana Putra mengatakan, dhahar kembul menjadi bagian nilai-nilai Pancasilan yang diejawantahkan oleh masyarakat Jogjakarta lewat hal sederhana. “Ini perhelatan gotong royong, karena disengkuyung oleh masyarakat,” ucapnya.

Antusiasme masyarakat begitu tinggi untuk acara ini. Donasi tumpeng dhahar kembul jauh di atas ekspektasi. Dari target 170 tumpeng, terkumpul 357. Atau lebih dari dua kali lipatnya. Seluruh tumpeng dibagi rata di 17 titik yang telah ditentukan. Di setiap titik digelar tikar, piring, dan kantong sampah.

Sebagai bentuk kepedulian warga Jogja terhadap korban bencana gempa bumi di Lombok, NTB, panitia juga mengedarkan 17 kotak donasi di setiap titik. Donasi yang terkumpul akan disalurkan melalui pemerintah daerah setempat.
“Masyarakat Jogja memahami betul posisi korban gempa bumi karena dulu (2006) pernah mengalami situasi yang sama,” kata Hasto. (tif/yog/fn)