SLEMAN – Kesejahteraan para petani menjadi fokus Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman. DP3 Sleman sedang menyiapkan beras yang diproduksi petani asal Sleman untuk memenuhi kebutuhan Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Kami juga persiapkan agar beras tersebut dapat masuk ke toko modern berjejaring (minimarket),” kata Kepala DP3 Sleman Heru Saptono.
Langkah tersebut akan memberikan rasa tenang pada petani lantaran komoditi berasnya pasti terbeli. DP3 juga ingin memutus rantai distribusi beras yang sangat panjang.

Biasanya distribusi harus melalui setidaknya empat tangan dulu sebelum sampai konsumen. “Dalam program ini beras dari petani disalurkan ke gabungan kelompok tani (Gapoktan) lalu ke konsumen,” kata Heru.
Pihaknya sedang menyiapkan kesepakatan dengan toko berjejaring dan menyiapkan beras bagi ASN Sleman. “Tahapnya masih menunggu kerja sama dengan toko berjejaring,” kata Heru.

Gapoktan disiapkan agar mampu menyuplai beras berkualitas bagus. Sleman Barat, Sleman Tengah, dan Sleman Timur disiapkan menyokong kebutuhan beras bagi ASN dan toko berjejaring tersebut.
“Tiga kecamatan di tiga wilayah penyokong tersebut Godean, Ngaglik, dan Prambanan,” ungkap Heru.
Produksi rata-rata per tahun beras di Sleman yaitu 186 ton. Sedangkan konsumsinya 86 ton, dan surplus 100 ton. Luas area padi di Sleman 16.000 hektare.

Heru mengatakan kelangkaan beras di Sleman disebabkan permintaan dari luar daerah yang tinggi. Beras Sleman termasuk dalam kategori baik.
“Permintaan luar banyak. Tapi ketika sampai di sana beras dari Sleman dicampur dan dijual lagi ke Sleman. Ini dilematis,” kata Heru.
Ketua Gapoktan Desa Sidomulyo, Godean Jumeni mengatakan ketersediaan beras di toko berjejaring disuplai separo produk beras lokal Sleman dan separo produk lainnya. Dia berharap harga beras terjaga dan ada kepastian keterjualan beras.

Sebelumnya, petani di Sleman menjual beras dan sampai ke konsumen dengan rantai yang panjang. “Dari petani bisa ke pengijon dulu, terus ke tengkulak, konsumen. Kalau ada kesepakatan bisa langsung dari petani, Gapoktan, ke konsumen,” ujar Jumeni. (har/iwa/mg1)