SLEMAN – Untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya penyandang disabilitas tuna rungu, kendaraan mereka akan diberi tanda khusus.

Kasubdit Kerma Binmas Polda DIJ AKBP Yulianto B W mengatakan, pihaknya tengah mencari format untuk para pengendara tuna rungu. Sebab, mobilitas para tuna rungu ini juga relatif tinggi. Di samping itu, masyarakat juga belum bisa membedakan mana pengendara yang tuna rungu.

“Dengan tanda berupa bendera ini masyarakat bisa tahu dan menghargai mereka,” ujarnya kemarin (24/9).

Pemakaian bendera sebagai tanda khusus ini merupakan adaptasi dari penandaan mobil pada area tambang. Menurut Yulianto, penggunaan bendera ini diklaim sangat efektif. “Sehingga pengendara lain tahu dan berhati-hati,” jelasnya.

Bendera ini nantinya akan dipasang pada setiap kendaraan baik roda dua maupun empat. Selain itu, dari segi bentuk, pihaknya menyarankan bendera berbentuk segitiga dengan panjang 20 sentimeter berwarna kuning.

“Dan di bendera itu nantinya akan terpasang logo tuna rungu yang itu sudah diakui internasional,” jelasnya.

Dengan tanda khusus ini, nantinya para tuna rungu juga dimungkinkan bisa mendapat perlakuan berbeda dalam mengikuti ujian untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Sebab, sebelumnya tidak ada regulasi yang mengatur tata cara ujian bagi tuna rungu.

Penggunaan bendera ini, masih harus dikaji lebih jauh lagi agar para tuna rungu tidak menjadi incaran tindak kejahatan. “Tapi kami memastikan semua aman, karena ada anggota kami yang terus berpatroli,” bebernya.

Dia berharap, tanda khusus ini dapat segera diaplikasikan. Sebab, selama ini belum ada yang mengadopsi konsep tersebut.”1 November 2018 mendatang bisa di-launching,” harapnya.

Sejak 2015, Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas DIJ telah melakukan kerja sama dengan pihak Polda DIJ. Ada tiga bidang yang menjadi poin utama yaitu bidang pembinan masyarakat, bidang reskrim dan bidang lalu-lintas.

Ketua Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas DIJ Setya Adi Purwanta mengatakan tahun ini pihaknya berencana untuk meningkatkan kerja sama dengan pihak kepolisian.

“Kerja sama ini sudah berjalan tiga tahun dan kami perpanjang lagi dan memperluas layanan,” kata Setya di sela-sela penandatangan MoU kerja sama dengan Polda DIJ kemarin (24/9).

Peningkatan itu pada bidang reskrimsus yang akan memberikan layanan penyelidikan dan penyidikan bagi disabilitas yang berhadapan dengan hukum pada bidang khusus narkoba. Selain itu, pada bidang lalu-lintas akan diberikan penyidikan dan penyelidikan yang mengalami kecelakaan lalu-lintas.

Salah seorang penyandang tuna rungu, Wahyu Tri Wibawa, 39, setuju dengan ide ini. Melalui penterjemah, dia menyampaikan pada akhirnya para tuna rungu dapat berkendara dengan aman.

“Dulu banyak sekali hambatan dalam berkendara,” ujar pria yang bekerja sebagai PNS itu.

Selain itu, Ayud, sapaannya, berharap dengan adanya tanda khusus ini juga nantinya berdampak pada kemudahan mendapatkan SIM. “Sebab selama ini kami selalu diperlakukan sama ketika ujian SIM, sehingga sering gagal,” tandasnya. (har/din)