SLEMAN – Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM dipenuhi anak muda, Sabtu malam (8/12). Mereka menyaksikan Eleven Concert For Revolution (Ecovolution), pentas seni (pensi) SMAN 11 Jogja.

Para penampil, Rubah dari Selatan, The Rain dan Stars and Rabbit menghibur sekitar 1.900 penonton. ‘’Konsep Neverland dipilih untuk mengajak anak muda meraih cita-cita tapi tidak melupakan norma,’’ kata Ketua Panitia Ecovolution, Hugo Vale.

Panitia sempat mengalami perubahan tema. Namun Neverland dipilih karena dianggap lebih general. ‘’Tema ini mengajak temen-temen bebas dan kreatif meraih cita-cita, tapi berpedoman pada norma,” kata Hugo.

Mengadakan konser musik butuh keberanian. Hugo mengatakan keterbatasan waktu dan biaya takkan menjadi penghalang jika panitia punya strategi matang.
‘’Tantangan Ecovolution karena waktu mepet dan dana tidak besar. Tapi semua itu tak jadi penghalang karena panitia kompak,” ucapnya.

Semua panitia dari background divisi apapun semangat berjualan minimal 10 tiket. Hasilnya, malam itu penonton membeludak. Target tercapai.

‘’Sosial media harus bagus. Feed rapi dan mengandung informasi. Selain itu, rekan satu panitia juga dengan senang hati dan semangat menjualkan tiket dan memublikasikan event ini. Target terpenuhi. Dari ekspektasi 1.700 tiket, yang terjual sekitar 1.900 tiket,” ungkap Hugo.

Ecovolution menjadi momen nostalgia The Rain. Band asal Jogja yang terbentuk 2001 itu salah satu personelnya alumnus SMAN 11 Jogja.

“Kami jadi emosional mengenang euforia zaman dulu. Waktu itu barometer band di Jogja itu diakui ketika sudah main di PKKH ini. Asyik bisa kembali dan mengenang semua prosesnya. Terutama di acara almamater sendiri,” cerita drummer The Rain, Aang Anggoro.

Vokalis The Rain, Indra Prasta memuji Ecovolution #7. Buatnya, panitia profesional menjadi kunci suksesnya acara.

‘’Dua bulan sebelum acara, mereka sudah gencar promosi. Pecah malem ini (8/12). Seru dan ramai banget penontonnya. Energi ini akhirnya menyalur pada kami di panggung,” puji Indra. (ata/iwa/fn)