SLEMAN – Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda DIJ AKBP Yuliyanto meminta warga bijak mengunggah informasi di sosial media. Pernyataan tersebut berkaitan dengan foto kecelakaan di depan Puskesmas Seyegan Jumat dini hari (7/12). Penyebab kecelakaan masih rancu, kecelakaan murni atau aksi kriminalitas.

Dampak lainnya, warga ada yang menduga kecelakaan akibat aksi kriminalitas jalanan. Wacana melakukan patroli dan menindak pelaku aksi kriminalitas jalanan pun mengemuka.

“Waspada dengan patroli monggo-monggo saja. Namun jangan sampai bertindak anarkis. Jangan bertindak sendiri seakan membenarkan aksi main hakim sendiri,” kata Yuliyanto, Minggu (9/12).

Statemen Kapolres Sleman medio 2016 ini beralasan. Aksi main hakim sendiri menyalahi koridor hukum. Padahal niat awal bagus, untuk menjaga kondusivitas lingkungan.

Langkah tepat adalah berkoordinasi dengan personel kepolisian. Jika menemukan sosok atau tindakan mencurigakan langsung diamankan. Selanjutnya menghubungi personel kepolisian di wilayah masing-masing.

“Kedepankan asas praduga tak bersalah. Jika terbukti melakukan aksi kriminalitas jalanan, pasti ada konsekuensi hukumnya,” kata Yuliyanto.

Dia memastikan personel kepolisian rutin berpatroli. Hanya saja, tidak bisa bermobilisasi secara cepat. Terlebih lingkup wilayah Polsek luas.

“Nah, partisipasi warga dengan menjaga lingkungannya masing-masing diperlukan,” ujar Yuliyanto.

Kecelakaan Jumat dini hari (7/12) tersebut berawal saat Mitsubishi Colt L120 yang dikendarai Nur Irawan berpapasan dengan dua pengendara Honda Scoopy. Saat berpapasan di Pertigaan Kantor Kecamatan Mlati, salah seorang pengendara memukul kaca depan mobil.

Tidak terima, Nur berputar arah dan mengejar pelaku. Saat pengejaran, salah seorang pengendara mengancam. Akhirnya kecelakaan terjadi dan menyebabkan dua pengendara Scoopy, Rizky dan Ananda Rifky meninggal dunia seketika.

Kepala Unit (Kanit) Kecelakaan (Laka) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sleman, Iptu Rahandy Gusty Pradana memastikan tetap ada pemeriksaan atas kasus tersebut. Namun jajarannya belum bisa menghimpun keterangan pengendara mobil. Nur Irawan dan penumpang pikap, Etika Dwi Noviasari mengalami luka-luka.

“Belum bisa meminta keterangan pengendara mobil maupun keluarga pengendara Scoopy. Tapi sudah masuk ke penyelidikan, mengumpulkan keterangan saksi dan bukti di lokasi kecelakaan,” kata Rahandy.

Dia membantah sudah adanya penetapan tersangka. Karena belum ada satupun pengendara yang dimintai keterangan. Dia meminta tidak ada spekulasi selama penyelidikan berjalan.

“Kami butuh keterangan langsung. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan,” kata Rahandy. (dwi/iwa/fn)