SLEMAN – Lapangan Pemkab Sleman diwarnai suara kicauan ratusan burung, Minggu (9/10). Burung bersahut-sahutan. Kendati jenisnya sama, kicauan burung itu tidak identik satu sama lain.

Burung-burung tersebut dibawa para pecinta burung dan penangkar dari seluruh Indonesia. Bukan utnuk dilepasliarkan, burung-burung itu ikut Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Sleman 2018.

Ketua Pelestari Burung Indonesia (PBI) Pusat, Bagya Rahmadi menuturkan, kontes ini baru kali pertama digelar. ‘’Sebab di DIJ, kontes burung berkicau yang kerap digelar adalah Kontes Burung Piala Raja,’’ kata Bagya di sela acara.
Dikatakan, burung-burung yang mengikuti kontes sebagian besar merupakan hasil penangkaran. Cucakrowo dan Murai Batu di antaranya. “Kami dari PBI mewajibkan burung-burung hasil penangkaran yang dilombakan,” kata Bagya.
Ada tujuh burung lokal dan tiga burung impor yang ikut serta. Ada Cendet, Anis Merah, Murai Batu, Cucakrowo, Kacer, dan Cucakijo. Sedangkan burung impor, ada Kenari, Love Bird dan Wame.

Dalam perlombaan ini ada 30 sesi. Dimana setiap sesi berlangsung 15 menit. Khusus Murai Batu, Cucakrowo, dan Cendet hasil penangkaran dilombakan dua sesi.

Bagya menjelaskan, penilaian berdasar tiga kategori. Pertama, lagu atau kicauan yang dihasilkan. Kedua, kelantangan suara kicauan, dan ketiga fisik burung.
“Bulunya harus baik, mata, paruh, dan kondisi burung juga harus sehat,” ujar Bagya.

Respons masyarakat cukup besar. Dari data panitia, ada peserta dari Padang yang ikut lomba. “Ini event nasional. Namun kebanyakan peserta dari Jawa,” jelasnya.

Salah seorang peserta lomba, M. Fahrurradin, 33, dari Jogja mengaku sejak 2001 ikut lomba kicau burung. Selama itu, berbagai penghargaan telah dia raih. Termasuk dalam Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Sleman 2018 ini. Murai Batunya mendapat juara.

“Motivasi ikut lomba itu berbagi ilmu. Silaturahmi dengan sesama penangkar dan pecinta burung, sukur-sukur juara,” ujar Fahrurradin. (har/iwa/fn)