PURWOREJO – Sengatan matahari tidak menyurutkan pengunjung beranjak dari jembatan lama Sungai Bogowonto yang membatasi wilayah Kecamatan Bagelen dan Purwodadi di Jalan Raya Purworejo-Jogjakarta, Minggu (9/12). Mereka ingin melihat dari dekat pertunjukan dalam Festival Bogowonto 2018.

Festival yang melibatkan lima desa yakni Desa Jenar Wetan, Ketangi di Kecamatan Purwodadi serta Desa Kalirejo, Bagelen dan Krendetan di Kecamatan Bagelen ini menyuguhkan beragam kesenian tradisional. Ruas jalan yang tidak digunakan lagi menuju jembatan lama pun dimanfaatkan untuk menempatkan cangkruk tempat berjualan.

Seluruh pendukung acara mengenakan pakaian tradisional Jawa. Ini juga dikenakan seluruh penjual yang menyuguhkan aneka makanan tradisional.
Panitia Penyelenggara Festival Bogowonto (Festbog) 2018 Nicolaus Legowo mengungkapkan, kegiatan yang dihelat ini merupakan rangkaian penutup dari beberapa kegiatan sebelumnya. Awal dari kegiatan itu dimulai dengan pengambilan air suci dari lima desa yang terlibat.

“Lanjutanya ada kegiatan konservasi yang meliputi pengecatan jembatan, penanaman pohon dan tebar benih ikan,” kata Legowo. Dan di puncak kegiatan itu, pihaknya menampilkan Sendratari Bogowonto garapan seniman lokal yang melibatkan 60 pendukung. Sendratari ini menceritakan Bogowonto sebagai tempat para bhagawan mengakiri pertapaannya.

Puncak Festbog 2018 juga menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat atas terselenggaranya edukasi konservasi, di mana kawasan itu bisa dikembangkan menjadi sebuah tempat rekreasi. Ke depan diharapkan akan ada aktivitas masyarakat di seputaran jembatan itu untuk dikembangkan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Wibowo yang hadir mewakili Bupati Agus Bastian mengatakan, Festival Bogowonto menjadi penyelenggaraan ketiga dari tahun 2016. Dalam catatannya, kegiatan pendahulu mampu menyedot kunjungan ribuan pengunjung.

“Kegiatan ini merupakan upaya untuk mengorganisasi pengelolaan Sungai Bogowonto berbasis masyarakat, dengan memperhatikan perspektif sejarah, seni budaya, kuliner dan keanekaragaman hayati,” kata Agung. (udi/laz/fn)