Inilah potret keluarga tangguh. Tak mau mengeluh karena himpitan ekonomi. Enggan dicap miskin, berjuang meraih prestasi. Itulah gambaran keluarga Tri Budiarto- Leny Lestyani. Dan buah hati mereka, Artha Syifa Sekar Palupi.

GUNAWAN, Gunungkidul

CUACA di Wonosari pukul 10.42 kemarin (11/12) cukup terik. Rumah tinggal Artha Syifa Sekar Palupi  berada di Jalan Bhayangkara 1 Siraman, Seneng, Wonosari. Tepatnya di belakang kompleks Mapolsek Kota Wonosari.

Jalan menuju kediaman keluarga inspiratif tersebut berupa lengkong sempit. Tepat di belakang gedung Unit Reskrim Polsek Kota Wonosari. Rumahnya sederhana. Sebagain besar materialnya berupa papan kayu. Dengan lantai cor semen yang tak rata. “Silakan masuk,” ucap Lenny Lestari mempersilakan Radar Jogja yang bertandang di rumahnya kemarin siang. Tak lama, Tri Budiarto, suami Lenny,  keluar dari dapur turut menyambut.

Setelah beramah tamah sebentar, keluarga ini mulai bercerita mengenai prestasi anaknya. Atlet muda sepatu roda. Yang berprestasi itu. Namanya Artha Syifa Sekar Palupi. Kelahiran 2 Februari 2007.

Baru-baru ini Artha meraih prestasi bergengsi. Juara 1 nasional turnamen sepatu roda. Kategori standar 300 c PI Turnamen Jateng Open 2018. Berlangsung di Semarang pada 25 November lalu.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari arah pintu rumah. Seorang gadis cilik hitam manis ikut nimbrung obrolan kami. “Assalamualaikum,” kata Artha mengucap salam. Kemudian ikut nimbrung. Duduk lesehan. Siswi kelas IV SDN Wonosari itu pulang menenteng kantung plastik. Entah apa isinya. “Anak saya juara satu 300 meter, juara satu 100 meter, dan juara dua team relay di turnamen itu,” ujar Leny.

Sosok Artha yang jadi topik pembicaraan hanya tersenyum. Tersipu. Ditanya bonus yang didapat Palupi dari kejuaraan itu, Leny hanya senyum. “Bonusnya Rp 300 ribu,” timpal Budiarto.

Nilai rupiah memang tak setara dengan gaung turnamennya. Namun keluarga kecil itu tak mempermasalahkannya. Karena memang bukan uang yang mereka kejar. Tapi prestasi. Bagi sang buah hati. Piagam penghargaan lebih penting. Dikumpulkan. Sebagai syarat mendapat beasiswa sekolah.

Baru-baru ini Artha mendapatkan beasiswa. Dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul. Itu pun tak otomatis dapat karena Artha berprestasi. Diawali pengajuan dari sekolah. Diteruskan ke KONI setempat. Lalu Disdikpora.

Alhamdulillah upaya kami berhasil,” kata Budiarto. “Kami ingin anak mendapatkan beasiswa berkat prestasinya. Bukan karena ketidakmampuan,” sahut Leny. Artha mendapat beasiswa bulanan. Rp 300 ribu dipotong pajak.

Sehari-hari Budiarto bekerja sebagai pekerja harian lepas di Polsek Kota Wonosari. Dengan upah Rp 500 ribu per bulan. Budiarto mengaku sangat beruntung. Seluruh jajaran polsek bersimpati. Tempat tinggalnya pun tak dipungut biaya. Bahkan dia tak pernah mengeluarkan uang untuk biaya listrik maupun air. Semua ditanggung Polsek Kota Wonosari.

Budiarto masih punya penghasilan tambahan. Dari melatih klub sepatu roda. Bersama istrinya. Honornya Rp 1,5 juta per bulan. Semua itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Terutama untuk menyokong semangat sang buah hati semata wayang.

“Sepatu roda second kelas speed Rp 6 juta. Kelas standar Rp 700 ribu. Ditambah perlengkapan safety Rp 500 ribu,” ucap Budiarto merinci.

Biaya mengikuti turnamen pun tak sedikit. Minimal harus tersedia uang Rp 1,5 juta. “Karena biasanya menginap hingga dua tiga hari. Jika dibanding bonusnya tentu sangat njomplang,” ucap Budiarto. “Orang tua hanya membuka jalan. Selanjutnya anak yang melangkah, kami mendampingi,” timpal Leny.

Selama ini Artha berlatih sepatu roda di area Alun-Alun Wonosari. Belakangan, setelah Budiarto mengelola klub, lokasi latihan pindah di tempat parkir Pasar Sapi Siyonoharjo, Siyono, Playen.

Meski usianya belum genap 12 tahun, Artha sangat paham seluk beluk dunia sepatu roda. Jam terbangnya cukup tinggi. Dia belasan kali mengikuti turnamen. Beragam penghargaan diraihnya secara serempak dalam setahun terakhir. Setelah merajai kategori standar 300 c PI Turnamen Jateng Open 2018, Artha bertekad naik di kelas speed.

Dunia sepatu roda memang terdapat beberapa kelas. Pertama, pemula.  Harga sepatu lebih murah. Lalu kelas standar agak mahal. Dan terakhir kategori speed paling bergengsi. “Bisa dibilang semakin naik kelasnya, otomatis sepatunya makin mahal,” kata Artha. (yog)