KULONPROGO – Masjid Al Hidayah di kompleks proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) akhirnya dirobohkan Rabu (12/12). Masjid di Padukuhan Kragon II, Palihan, Temon, Kulonprogo itu selama ini digunakan sebagai pusat perlawanan aktivis penolak bandara baru.

Pimpinan Proyek NYIA Angkasa Pura (AP) I Taochid Purnama Hadi mengatakan, proses eksekusi masjid dilakukan menyusul adanya kesepakatan bersama dengan nadzir, takmir, dan pihak terkait lainnya.

Bangunan utama masjid dirobohkan menggunakan alat berat. Dimulai sekitar pukul 09.00. Sebelumnya, perkakas utama seperti kubah, jendela dan material lain yang masih bisa digunakan dilepas. Kemudian diangkut ke masjid baru yang dibangun lebih dulu. Sebelum pembongkaran masjid lama. Masjid Al Hidayah baru dibangun di dekat kawasan relokasi warga Palihan. Puing-puing bekas bangunan juga diangkut ke lokasi masjid baru. Dimanfaatkan untuk menguruk pelataran masjid.

Masjid Al Hidayah lama merupakan bangunan terakhir yang tersisa di area proyek bandara. Bekas area masjid ini akan dilebarkan dan jadikan jalan underpass.

Taochid berharap ke depan tak ada lagi hambatan dalam pembangunan bandara baru. Adapun progres pembangunan NYIA saat ini baru 15 persen. “Kami bekerja siang dan malam untuk mengejar target April 2019,” ungkapnya kemarin.

Sebagaimana proses eksekusi lahan dan bangunan terdampak NYIA, pembongkaran masjid dikawal puluhan aparat keamanan.

Kapolsek Temon Kompol Setyo Hery Purnomo mengaku menerjunkan sedikitnya 80 anggota. Dibantu 120 tenaga gabungan dari TNI, Pemdes Palihan, dan warga setempat. “Situasi aman dan terkendali,” ujarnya.

Kepala Desa Palihan Kalisa Paraharyana menyatakan, masjid yang dibongkar merupakan yang tertua di Palihan. Menjadi tempat ibadah umat Islam dari tiga padukuhan. “Karena memang harus direlokasi ya mau nggak mau dipindah,” ujarnya.

Masjid baru lebih besar dan luas. Dibangun menggunakan dana kompensasi fasilitas umum desa dari PT AP I.

Takmir Masjid Al Hidayah Wiharto menambahkan, meski bangunan masjid baru belum sempurna, sudah bisa digunakan untuk beribadah. Kepengurusan masjid juga telah dibentuk. Lengkap dengan jadwal imam dan muadzin. Berikut agenda kegiatan untuk pengelolaan kebersihan. Salat Jumat perdana juga sudah dilakukan.

Kini tinggal membuat saluran drainase. Untuk membuang air di halaman masjid yang menggenang saat hujan. “Tempat wudu baru ada empat. Kamar mandi dan toilet belum ada. Itu penting kalau ada jamaah dari luar yang mampir ke masjid ini,” katanya. (tom/yog/fn)