Push Bike, olahraga ini tengah menjadi tren terutama di kalangan anak-anak. Bukan hanya sekadar sport, kegiatan ini juga melatih motorik dan keseimbangan anak. Bentuknya seperti sepeda. Tapi kok tidak ada pedalnya. Seperti apa Push Bike itu?

DWI AGUS, Jogja

Gregetan. Itulah yang biasa dirasakan orang tua maupun pelatih di Keluarga Besar Push Bike Yogyakarta (KBPBY). Terutama saat ada anak yang berlatih atau berlomba. Mulai dari mogok tidak mau start atau berhenti di tengah perlintasan.

“Lalu menangis karena kalah, semua itu wajar karena maklum usia dan tingkah anak-anak,” ujar pengurus KBPBY Taufik Ibnu Wafa, beberapa waktu lalu.
Untuk berlatih sepeda ini memang perlu pendampingan. Ini karena tidak ada roda ketiga atau keempat sebagai penyangga keseimbangan. Awalnya anak harus bisa berdiri tegap di sadel sepeda. Selanjutnya kaki berjalan secara perlahan atau berlari sebagai pendorong.

Sepeda ini memiliki keunikan tersendiri. Dari segi desain, sepeda ini memiliki rangka yang sama dengan sepeda pada umumnya. Tapi tidak ada pedal kaki, gir dan rantai sebagai tenaga pendorong. Semuanya tergantikan dengan tenaga dorong kaki sang anak.

Dari segi desain, jenis sepeda ini sangatlah ergonomis. Setidaknya kaki sang anak masih bisa menjangkau tanah. Sehingga kedua kaki masih bisa berdiri meski dalam posisi duduk. Berbeda dengan sepeda pada umumnya, dimana kadang kaki tidak menyentuh tanah.

“Jadi bukan dipedal, tapi anak mendorong pakai kaki. Tekniknya berjalan atau berlari tapi sedang menaiki sepeda,” jelas pria yang akrab disapa Afa itu.
Menurut dia manfaat dari Push Bike. Bukan hanya menyehatkan, Push Bike juga mampu melatih keseimbangan anak. Disatu sisi motorik anak juga terus terlatih karena aktif bergerak.

Sejarah lahirnya Push Bike dari negeri paman Sam, Amerika Serikat. Kala itu sepeda memang diperuntukan bagi anak anak. Seiring waktu berjalan sepeda ini menjadi tren olahraga baru di negara barat. Memasuki 2015, Push Bike mulai tren di DIJ.

“Awalnya anak saya Narayan Kenzie Devdan, 4, tertarik menggunakan sepeda tanpa pedal ini. Lalu ketemu dengan orangtua yang anaknya hobi Push Bike. Akhirnya inisiatif mendirikan KBPBY,” ujar Afa.

Itulah mengapa tidak ada pelatih khusus. Sosok orangtua adalah pelatih yang pas bagi setiap anaknya. Terutama dalam memotivasi anak-anaknya untuk terus berlatih. Untuk safety jangan diragukan lagi. Anak tetap pakai helm, pengaman sikut tangan dan lutut juga menggunakan sepatu. “Jatuh saat berlatih itu wajar, terpenting anak tidak takut untuk terus belajar,” katanya.

Untuk berlatih, KBPBY memiliki waktu khusus saat akhir pekan. Lokasi berlatih kadang berpindah-pindah setiap minggunya. Mulai dari kawasan Tembi, Jogja Expo Center hingga Youth Center Sleman. Sementara untuk harga kisaran Rp 800 ribu hingga Rp 2,5 juta. (pra/fn)