BANTUL – Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Disperpautkan) Bantul menerapkan sejumlah strategi untuk memperkuat sektor ketahanan pangan. Dinas yang berkantor di kompleks Perkantoran Pemkab Manding ini tidak hanya mengandalkan luasnya area persawahan. Melainkan juga pekarangan.

Menurut Kepala Dipsperpautkan Bantul Pulung Haryadi, langkah itu dilakukan lantaran masih banyak lahan pekarangan rumah yang belum tergarap. Alias dibiarkan menganggur. Padahal, lahan pekarangan bisa ditanami berbagai jenis tanaman.

”Seperti sayuran dan buah-buahan,” jelas Pulung di kantornya pekan lalu.

Pemanfaatan lahan pekarangan, Pulung menyebut tidak hanya untuk memperkuat sektor ketahanan pangan. Upaya ini juga bisa untuk mempercepat diversifikasi pangan. Dengan begitu, pemanfaatan lahan pekarangan tidak hanya dapat memenuhi pangan dan gizi keluarga. Tapi, juga meningkatkan pendapatan keluarga.

”Manfaatnya sangat besar. Terutama bagi masyarakat dengan golongan ekonomi lemah,” ucapnya.

Di Disperpautkan, pemanfaatkan lahan pekarangan ini diberi nama Kawasan Rumah Pangan Lestari (KPRL). Teknisnya, dinas memberikan pembinaan, bimbingan, hingga penyuluhan. Sasarannya adalah kelompok wanita tani (KWT). Dengan anggota sekitar 15 orang. Ada beberapa jenis tamanan yang dianjurkan untuk dibudidaya. Seperti aneka umbi-umbian, sayuran, dan buah-buahan. Penyuluh juga menganjurkan budidaya ikan dan hewan ternak.

Yang menarik lagi, konsep ini menggunakan pendekatan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Bentuknya, antara lain, membangun kebun bibit dan mengutamakan sumber daya lokal.

”Nah, kebun bibit ini untuk memasok kebutuhan bibit tanaman, ternak, maupun ikan bagi anggota (KWT) maupun masyarakat,” ujarnya.

Pejabat yang tinggal di Banguntapan ini memastikan berbagai tanaman, ikan, maupun hewan ternak yang dibudidaya di atas lahan pekarangan itu mencukupi berbagai kebutuhan asupan gizi masyarakat. Juga ikut menjaga stabilnya pasokan kebutuhan sejumlah komoditas di pasaran. Salah satunya, cabai.

”Tidak sedikit ibu-ibu yang menanam cabai di pekarangan rumahnya. Itu untuk mengantisipasi mahalnya harga cabai,” ungkapnya.

Selain cabai, Pulung juga mendorong agar masyarakat memberikan prioritas pada pisang. Itu lantaran pasar pisang sangat terbuka. Terlebih lagi, kualitas pisang lokal Bumi Projotamansari tak kalah dibanding produk impor.

Dengan upaya ini, Pulung menegaskan ada sejumlah target yang dapat diraih sekaligus. Yakni, gerakan percepatan penganekarahaman konsumsi pangan (P2KP), pemberdayaan KWT, dan terwujudnya konsumsi pangan beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA). (*/zam/fn)