Salah satu hal yang terbilang krusial yaitu ihwal pemilih. Sebab di tangan merekalah yang menentukan siapa yang terpilih duduk di kursi pemerintahan. Adapun salah satu golongan pemilih yaitu pemilih muda (pemula). KPU sebagai penyelenggara pemilu tentu harus ekstra hati-hati dalam bertindak.

Batas usia minimum mereka harus diawasi ketat. Mengingat jumlah pemilih pemula ini cukup besar, sekitar 20-30% suara. Jangan sampai yang seharusnya layak memilih justru tidak memilih atau sebaliknya yang masih belum berhak memilih malah justru memilih.

Kalau kita cermati jumlah pemilih muda (pemula) dari tahun ke tahun selalu naik signifikan. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap hasil gelaran pesta demokrasi ke depan. Perlu adanya strategi khusus yang harus diterapkan oleh KPU guna menggandeng pemilih pemula. Ini penting dilakukan bukan hanya sekadar untuk mendulang suara semata, tapi juga memberi kesempatan mereka berperan aktif dalam pesta demokrasi lima tahunan.

Masukya pemilih pemula dalam lingkaran golput tentu bukan hanya faktor ketidaktahuan semata. Banyak juga dari mereka yang melek politik tapi acuh lebih memilih golput karena sikap apatisnya terhadap bakal calon (balon). Selama ini mereka beranggapan pemilu hanyalah pesta yang menghambur-hamburkan uang rakyat.

Menurut pengalaman sudah-sudah orang yang akhirnya terpilih duduk di kursi eksekutif ataupun legislatif malah justru terkesan sibuk mengembalikan uang kampanye bukan memenuhi janji-janji politiknya di saat kampanye. Karena itu, mereka yang punya idealisme tinggi sudah saatnya sadar dan berpartisipasi aktif untuk mengontrol jalannya pemilihan umum agar berjalan lancar dan sukses.

Untuk mengatasi permasalahan ini KPU sebagai pihak penyelenggara bukan hanya aktif sosialisasi mengenai pentingnya pemilih. Namun, juga perlu adanya pendidikan politik, terutama untuk pemilih pemula agar mereka sadar diri betul hakikat pemilu dan tertarik menggunakan hak suaranya.

Para balon sendiri juga harus tampil sebagai sosok tauladan yang memang pantas untuk dipilih. Artinya, selain aktif berkampanye, tentunya mereka juga harus meyakinkan lewat program-program yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. Cara-cara klasik seperti kampanye di pinggir jalan dengan menggunakan arak-arak kendaraan yang digas besar-besaran perlu diubah. Cara ini mengganggu para pengguna jalan lain serta menyebabkan polusi udara.

Perlu di pahami bahwa pemilu pemula atau pemilih millenial merupakan generasi yang lekat dengan teknologi. Oleh karenanya, apapun hal yang berkaitan dengan kampanye dan edukasi politik hendaknya harus menyasar di ruang digital. KPU harus kreatif menyelenggarakan edukasi politik kepada mereka. Begitupun dengan bakal calon, sudah seharusnya mereka lebih jeli serta kreatif lagi dalam berkampanye agar lebih elegan dan lebih bermartabat sehingga pemilih pemula tergerak untuk memilih.

Sementara itu, pemilih pemula juga harus cerdas dan bijak menggunakan hak pilihnya. Karena ini menyangkut nasib bangsa lima tahun ke depan. (ila)

*Penulis adalah Peneliti pada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta