Penataan kawasan Malioboro harus bisa membawa banyak manfaat. Tak hanya bagi masyarakat. Lebih dari itu untuk perkembangan Kota Jogja. Penataan itu juga diharapkan mampu meningkatkan perhatian masyarakat pada cagar budaya.

FAIRIZA INSANI, Jogja

Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Sektiadi SS Mhum cukup optimistis. Penataan kawasan pedestrian Malioboro mampu membentuk karakter baru pengunjungnya. Menjadi lebih peduli dengan kondisi lingkungan destinasi andalan Kota Jogja itu. Terutama dengan benda-benda cagar budayanya.

“Dengan pedestrian itu orang akan lebih lambat berjalan. Mereka bisa menikmati kawasan itu,” ujarnya kepada Radar Jogja belum lama ini.

Sektiadi melihat penataan pedestrian memperlapang ruang dan waktu pengunjung Malioboro. Mereka bisa menikmati bangunan apa saja yang berdiri di kawasan itu. “Dulu pengunjung cuma bisa beli oleh-oleh. Sekarang lebih dari itu,” katanya.

Ada beberapa bangunan cagar budaya di kawasan itu. Sebut saja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Merujuk pada sejarah, tutur Sektiadi, keraton dan Belanda memberikan banyak pengaruh terhadap pembangunan Malioboro.

Kawasan itu tak hanya sekadar pusat ekonomi. Tapi juga pusat pemerintahan. Malioboro juga kerap menjadi tempat berkumpulnya kegiatan sosial, budaya, dan sastra. “Itu sumbu penting bagi keraton,” ujarnya.

Sektiadi memandang keraton lebih berkepentingan membangun Malioboro. Dibanding Belanda. Kala itu. Kendati demikian, sentuhan arsitektur Belanda cukup mewarnai wajah Malioboro. Seperti di kawasan Benteng Vredeburg hingga Titik Nol Kilometer.

Itulah kesimpulan Sektiadi kenapa pembangunan pedestrian bisa menjadi sajian menarik bagi wisatawan. Untuk menikmati peninggalan sejarah tersebut.
Satu hal yang patut menjadi perhatian pemerintah adalah penataan baliho. Tiang papan reklame terlalu padat di kawasan itu tak sedap dipandang.

Sebagian baliho berukuran jumbo bahkan menutupi bangunan cagar budaya yang ada. Jogja Library Center, salah satunya. Yang terletak di sisi utara Jalan Malioboro. “Ke depan pemasangan baliho harus bisa lebih tertib dan rapi,” sarannya.

Sebagai gantinya, Sektiadi berharap pemerintah memasang papan nama. Berisi informasi tentang cagar budaya yang ada di Malioboro. Bisa berupa teks atau QR Code yang bisa diakses lewat smartphone.

Langkah tersebut sebagai wujud optimalisasi fasilitas Malioboro. Dengan begitu, pembangunan tetap dinamis tanpa meninggalkan sisi historis dan budayanya. Sehingga Malioboro tak lagi hanya menjual oleh-oleh, tapi juga kenangan.
Yang harus dijaga adalah peninggalan-peninggalan yang tidak terbaharui. Pengembangan kawasan Malioboro tidak boleh meninggalkan nilai-nilai budaya. ÔÇťAspek-aspek intangible boleh berganti. Tapi tidak dengan nilai-nilainya,” tegasnya. (yog/fn)