JOGJA – Produk pangan, obat, dan kosmetik yang beredar di pasaran, ternyata belum semua mendapat sertifikat halal. Proses sertifikasi diperlukan supaya masyarakat yakin dengan produk yang dipakai.

Auditor Halal Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) DIJ Nanung Danar Dono mengaku terus berusaha melakukan audit produk. Audit produk merupakan audit yang dilakukan terhadap produk melalui pemeriksaan proses produksi. “Fasilitas dan bahan-bahan yang digunakan dalam produksi juga menjadi penilaian,” ujarnya kemarin (17/12).

Terkait Sertifikasi Halal, setiap perusahaan wajib memenuhinya. Untuk perusahaan yang telah bersertifikasi, masa berlakunya adalah dua tahun. Selama masa tersebut, perusahaan harus bisa memberikan jaminan kepada MUI dan konsumen muslim. “Itu terkait komitmen perusahaan yang senantiasa menjaga konsistensi kehalalan produknya,” jelasnya.

Sebelumnya Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ Rustyawati mengatakan juga terus menggencarkan pengawasan bahan makanan dan obat yang dijual di pasaran. Salah satu yang disoroti BBPOM DIJ terkait dengan izin edar. Masyarakat diminta melakukan cek ‘KLIK’. Atau cek kemasan, label, izin edar, dan tanggal kadaluwarsa sebelum membeli.

Sementara itu ada Desember 2018 ini, LPPOM MUI DIJ merilis hasil audit atas beberapa produk. Baik perusahaan yang berstatus baru, transisi, maupun perpanjangan. Hasil audit tersebut dibagi dalam 20 kelompok perusahaan produksi. Mulai dari kelompok daging, yang di dalamnya termasuk daging olahan seperti nugget dan bakso. Kemudian kelompok rumah potong hewan, ikan dan produk olahan, bumbu-bumbu, makanan ringan, jamu, hingga kosmetik.

Pada kelompok daging, ada 28 nama produk yang bersertifikat halal. Sedangkan, kelompok rumah potong hewan ada sekitar 77 produsen yang mengantongi sertifikat halal. Untuk produk kosmetik, setidaknya ada 16 nama produk yang bersertifikat halal.

Melalui sertifikat halal ini, Nanung berharap masyarakat bisa lebih bijak menggunakan dan mengkonsumsi berbagai produk. “Sebab sertifikasi halal turut memberi keyakinan kepada konsumen, terlebih bagi masyarakat Indonesia,” ujar Dosen Fakultas Peternakan UGM itu. (cr9/din)