KULONPROGO – Tim dari Fakultas Biologi  Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan outopsi bangkai penyu yang ditemukan mati di Pantai Congot, Temon, Senin (17/12). Dugaan kematian penyu akibat menelan sampah plastik menjadi alasan mereka melakukan penelitian.

Dosen Fakultas Biologi sekaligus Kepala Museum Geologi UGM Donan Satria Yudha mengatakan, pihaknya diminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta untuk mengecek kondisi penyu yang mati. Tim hanya ingin memastikan dan mengidentifikasi jenis plastiknya. Plastik dari limbah di lokasi tersebut atau bukan. “Karena bisa jadi penyu ini mati di tengah dan terdampar di sini,” katanya.

Namun ternyata, saat dibongkar tenyata tidak ditemukan plastik. Melainkan menemukan kulit ikan buntal. Sehingga dugaan sementara berdasarkan suspect penyebab kematian yakni memakan ikan buntal. Proses identifikasi juga terkendala kondisi tubuh penyu yang sudah hancur.

Informasi awal, saat ditemukan sisiknya juga sudah mengelupas. Jadi kemungkinan penyu sudah mati lama. Identifikasi jenis penyu juga sulit. Karena kepalanya tidak ditemukan.”Namun kemungkinan ini jenis penyu lekang yang memang biasa mendarat di pantai selatan Kulonprogo,” ucapnya.

Dijelaskan, foto plastik di tubuh penyu yang diduga sebagai penyebab kematiannya juga masih ada kemungkinan itu bukan plastik, melainkan jaringan tubuh penyu. Kalau diamati, supesctnya karena makan ikan buntal. Karena ikan buntal memang beracun dan bisa membunuh. Namun itu juga masih dugaan.”Sebab pakan alami penyu yakni hewan kecil atau ubur-ubur,’’ jelasnya.

Menurutnya, sampah plastik memang mirip ubur-ubur, sehingga kemungkinan besar penyu bisa jadi tertipu memakannya. Namun tim sama sekali menemukan pastik di area perut penyu. Langkah selanjutnya kemungkinan nanti akan dibandingkan dengan data BKSDA.

“Yang jelas kami menemukan kulit nikan buntal di tubuh penyu,’’ jelasnya. Kendati demikian, tim tidak berani memastikan penyebab kematian penyu. Karena ada kemungkinan juga plastik tidak ikut terkubur atau sudah terpisah sebelum ditemukan. Sementara untuk menelisik penyebab kematian penyu juga bukan ranah tim.

Terlepas dari itu, kondisi pantai selatan di Kulonprogo memang sangat memrihatinkan. Sampah organik dan sampah plastik menumpuk serupa barier di pantai. Kondisi itu tidak terlepas dari keberadaan dua muara sungai besar yang mengapit pantai di Kulonprogo, yakni sungai Progo dan Bogowonto. “Kalau sampah organik tidak begitu bermasalah tapi sampah plastik. Bisa dilihat sendiri kondisinya, memang harus ada tindakan. Minimal dilakukan bersih pantai yang harus melibatkan beberapa phak termasuk DLH,” katanya.

Bangkai penyu itu ditemukan pemancing di Pantai Congot, berikut sampah plastik yang terburai dari perut. Penyu itu kemudian dikubur oleh aktifis Wild Water Indonesia (WWI) Kulonprogo.  Salah satu aktivis WWI Kulonprogo Hery Hermanto mengatakan, penyu ditemukan sekitar 200 meter di timur kawasan wisata Pantai Congot, atau sekitar 2 Kilometer dari Pantai Glagah. (tom/din)