JOGJA – Malioboro sebagai ikon dan tujuan wisata di Kota Jogja selalu diserbu wisatawan pada akhir tahun. Dampaknya bakal terjadi kemacetan di sepanjang jalan ini maupun akses menuju Malioboro.

Akhir tahun ini, kawasan Malioboro diprediksi akan lebih padat dari tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kota Jogja Golkari Made Yulianto.

Lonjakan kepadatan didukung wajah baru Malioboro. Ini yang membuat wisatawan sangat penasaran dengan tampilan baru Malioboro. Apalagi, ini berbarengan dengan masa libur sekolah, Natal dan tahun baru (Nataru).

Golkari menjelaskan, dengan rampungnya pedestrian sisi barat semakin mempersempit ruang bagi kendaraan. Dikarenakan pelebaran kawasan untuk pejalan kaki juga berdampak pada berkurangnya luas jalan.

Berbeda dengan tahun lalu, sepanjang Jalan Malioboro masih memiliki jalur lambat yang dapat dimanfaatkan untuk kendaraan melintas. Kini kendaraan seperti becak dan andong juga harus melawati satu jalur, yaitu jalur cepat.

“Sekarang tidak ada jalur lambatnya. Semua jenis kendaraan akan melalui jalur cepat, dan ini tentu akan meningkatkan kepadatan lalulintas,” jelasnya.

Oleh karena itu, Gokari mengimbau masyarakat atau wisatawan yang tidak mempunyai kepentingan di Malioboro, untuk menghindari kawasan itu. “Agar tidak menambah kemacetan  saja,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Ahli Pusat Studi Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada (UGM) Phil Janiaton Damanik mengakui Kota Jogja masih menjadi jujukan wisatawan pada libur akhir tahun. Dari penuturun wisatawan, mereka cenderung ingin merasakan sensasi baru atau sekadar melepas penat dari kehidupan perkotaan. “Jogjakarta menawarkan potensi budaya yang diminati  para wisatawan,” ujarnya.

Bersamaan banyaknya wisatawan yang datang ke Jogjakarta pada libur Nataru, Damanik mengatakan, selain masalah macet satu hal yang perlu disikapi adalah tentang masalah sampah. Adanya tempat sampah yang tidak dapat menampung tempat sampah di Malioboro, juga harus  menjadi perhatian semua pihak.

“Jadi tidak serta merta menyalahkan pemerintah. Namun juga perlu ada kesadaran wisatawan dan pengurus tempat itu. Seperti memberi edukasi kepada pengunjung, atau peningkatan insentitas pembersihan sampah,” jelasnya.

Dia menjelaskan kebersihan suatu tempat wisata merupakan aspek penting dalam pariwisata. Dikhawatirkan dengan adanya masalah itu dapat memberi citra buruk pada Malioboro yang selama ini menjadi ikon wisata DIJ.

“Yang paling membuat citra tempat wisata bagus adalah kebersihan dan keamanan. Sedangkan hal lain merupakan penunjang,” tambah Damanik. (cr5/laz)