Imam Priyono Dwi Putranto menjabat wakil wali kota Jogja periode 2011-2016. Setelah purna dari pejabat penyelenggara negara ini, IP, sapaan akrabnya, seolah-olah tak banyak terdengar. Ke mana saja aktivitas dia selama 1,5 tahun terakhir. Terutama setelah Pilkada April 2017 silam?

 

KUSNO S. UTOMO, Jogja

“Selamat siang. Tugas yang kemarin sudah dikerjakan? Ayo dikumpulkan ke depan,” ucap IP saat memasuki salah satu ruang kuliah di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) Kamis siang dua pekan lalu.

Siang itu sekitar pukul 14.00, IP telah siap mengajar. Tak kurang  30 mahasiswa telah menunggunya. Mereka adalah mahasiswa jurusan akuntasi. Hari itu mata kuliah yang diajarkan adalah pengantar akuntasi I.

“Masih ingat pengertian modal awal dan modal akhir,” lanjut IP sambil menuliskan angka-angka di papan tulis dengan spidol hitam. Meski lima tahun menjadi pejabat publik, IP terlihat fasih. Cara mengajarnya cukup berpengalaman.

Maklum, jauh sebelum menjadi politikus, suami Suryani ini memiliki latar belakang dosen akuntansi. Karir pertama diawali menjadi asisten dosen di Akademi Akuntasi YKPN. Kemudian menjadi asisten dosen di STIE YKPN. Dia juga pernah mengajar di Akademi Akuntansi (AKA) Semarang dan Universitas Janabadra Jogjakarta.

“Mengajar memang menjadi habitat saya,” ujarnya, usai menyampaikan materi kuliah. Kuliah berakhir sekitar pukul 15.30. Selain pengantar akuntasi 1, alumnus Pascasarjana Fakultas Ekonomi UGM ini juga mengajar mata kuliah audit. Mata kuliah audit diajarkan setiap Sabtu. “Saya senang berbagi ilmu dan berdiskusi dengan para mahasiswa,” ceritanya.

Hampir lima tahun tak berada di ruang kuliah, tak membuat IP kerepotan mengajar. Dia mengaku selalu membaca sejumlah referensi satu hari sebelumnya. Bahan bacaan perlu diperbanyak karena perkembangan di lapangan sangat pesat. “Kalau tidak menyesuaikan, bisa ketinggalan,” ujar ayah dari Lafran Ilham Putra Priyono dan Vinza Risqi Putra Priyono ini.

Mengajar merupakan  bagian dari hari-hari IP. Di luar itu, pria yang berulang tahun saban 4 September ini menghabiskan waktu bolak-balik Jogja-Jakarta dan Jogja-Semarang mengurusi sejumlah usahanya. “Saya punya beberapa toko besi kecil-kecilan. Alhamdullilah sekarang mulai berkembang. Yang mengurus anak sulung saya,” tuturnya.

IP juga pernah menjabat General Manager (GM) High Life (Gulas) Semarang, manajer Nayati Semarang dan Depot Account Executive ICI Paints. Salah satu unit usaha ICI Paints adalah mengeluarkan sejumlah produk cat. Dari situlah dia berkenalan dengan aneka produk bahan bangunan.

IP kemudian membuka usaha toko besi sejak akhir 1990-an. Salah satu toko besi rintisannya berada di samping Puskesmas Kasihan di Bangunjiwo, Bantul. Namanya Toko Besi Lestari.

Tak hanya mengajar dan bisnis, IP masih sering berkumpul dengan beberapa komunitas. Di antaranya rekan-rekan sekolahnya di SMPN 5 dan SMAN 8 Jogja. Mereka sering berkumpul di Alun-Alun Kidul (Alkid) Jogja. Namanya Paguyuban Paseduluran Alkid. “Kumpul dan nyanyi-nyanyi. Rabuk yuswa (memperpanjang umur, Red),” katanya.

IP juga biasa mengadakan silaturahmi dengan sejawatnya. Bentuknya dengan menyanyi lagu-lagu nostalgia. Lokasinya di Rumah Musik bukan Kafe Jalan Purwanggan, Pakualaman, Jogja. Itu warung makan milik kakak kelas IP semasa di SMAN 8 Jogja. “Kami biasa reuni sambil kumpul-kumpul,” lanjutnya.

Kini, menjelang Pemilu 2019 rupanya ia belum dapat meninggalkan dunia politik sebagai salah satu panggungnya. Jika 2017 maju sebagai kandidat wali kota Jogja, maka 17 April 2019 IP berlaga sebagai calon anggota DPRD DIJ. IP menjadi calon legislatif PDI Perjuangan dari daerah pemilihan (Dapil) Kota Jogja . (laz)