Alat pengurang rasa sakit atau nyeri persalinan bernama Pain Digital Acu pressure (PDA), berhasil menjadi pemenang di ajang Kreativitas dan Inovasi (Krenova). Ini adalah karya Heni Setyowati dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang.

FRIETQI SURYAWAN, Mungkid

Ajang ini digelar Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Daerah (Bappeda Litbangda) Pemkab Magelang. Sejak Maret lalu, mereka mencari karya inovasi dan kreatifitas di wilayahnya. Karya tersebut dinilai Pemenangnya diumumkan di Pendopo Soewardi Kota Mungkid, kemarin.

Kepala Bappeda Litbangda Kabupaten Magelang  Sugiyono mengatakan, kegiatan ini merupakan penghargaan kepada masyarakat yang telah melakukan suatu penemuan atau karya kreatif dan inovatif. Bidangnya baik agrobisnis, pangan, energi, kehutanan, ruang hidup, kelautan dan perikanan, kesehatan, obat-obatan, dan kosmetika.

Selain itu juga di bidang pendidikan, rekayasa teknologi, kerajinan dan industri rumah tangga. “Kriteria penilaiannya meliputi inovasi atau kreativitas, penerapan atau aplikasi di masyarakat, nilai manfaat, serta penguasaan materi pada saat pemaparan,” katanya.

Peserta Krenova berasal dari para siswa, mahasiwa, dosen hingga masyarakat biasa yang berdomisili di Kabupaten Magelang. Selain PDA, juga ada Keran ‘Semata’ sebuah upaya efisiensi pemanfaatan sumber daya air bersih secara hemat, murah dan sederhana karya Qomarudin sebagai Juara 2. Kemudian Juara lll diraih Fanny Aditya, dengan judul karya U Tree Flower Wifi dengan Hybrid Power. Para pemenang selain mendapat penghargaan juga hadiah uang.

Menurutnya, Pemkab Magelang mengucapkan selamat dan mengapresiasi pada para pemenang. Karena sekarang memang Indonesia sudah memasuki era revolusi digital 4.0. Ini berarti kita semua harus selalu siap berinovasi dan berkreasi menyesuaikan perkembangan teknologi. “Jika tidak, kita akan tergilas kemajuan zaman,” tutur Bupati Magelang Zainal Arifin, usai menyerahkan hadiah kepada para pemenang.

Juara Harapan diraih Agung Cahya Budi, dengan judul karya ‘Ultravinic Desinfecter Agroproduct’,  Lilis Madyawati, dengan judul karya Bola Mamak dan Nurul Widodo, dengan judul karya penjemur portable bijian untuk meningkatkan kualitas kopi.

PDA sendiri adalah alat kesehatan yang awalnya dibuat untuk mengurangi rasa nyeri kontraksi pada ibu bersalin. Setelah dikembangkan ternyata mampu dimanfaatkan sebagai terapi kesehatan penyakit lainnya. Proses awal pembuatan dan pengembangan alat tersebut pada 2013, dan diajukan hak paten pada 2015.”Awalnya memang dibuat untuk mengurangi nyeri ibu bersalin, agar kesakitannya berkurang. Tetapi setelah dikembangkan bisa untuk menurunkan tekanan darah, kolesterol dan gula,” ungkap Heni Setyowati.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UM Magelang ini awalnya menciptakan alat ini dalam rangka penelitian untuk disertasinya yang mendapatkan bimbingan dari Dosen Fakultas Teknik UI. Alat tersebut bekerja menggunakan gelombang dengan frekuensi pada 30 hz, yang mana terus dikembangkan untuk mencari frekuensi yang lebih tepat lagi. Sebelumnya alat telah dicoba pada hewan, dan hasil baik untuk diterapkan pada manusia “Tadi ada yang mencoba terapi memakai alat PDA, dari tekanan darah awal 132/85, usai terapi PDA menjadi 122/83. Dan untuk gula darah dari 246 menjadi 229,” tandas Heni.

Untuk saat ini, alat PDA belum dijual bebas karena jumlahnya masih terbatas. Namun, Heni mengaku akan menjual alat tersebut di kisaran harga Rp 3,5 juta jika sudah bisa diproduksi secara massal. (din)