SLEMAN – Jelang tutup tahun 2018 harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak. Khususnya komoditas bumbu dapur. Cabai rawit merah, misalnya. Naik Rp 10 ribu per kilogram. Saat ini harga cabai rawit merah menembus Rp 30 ribu per kilogram. Demikian pula bawang merah dan putih. Naik dari Rp 20 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Lonjakan harga juga terjadi pada telur ayam. Dari Rp 16 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilogram.

Kenaikan harga komoditas tersebut terpantau di pasar-pasar tradisional di wilayah Sleman dan Gunungkidul kemarin (19/12).

“Kalau cabari rawit merah naik harga baru sehari ini (kemarin). Sedangkan telur sudah sejak seminggu lalu,” ungkap Sujinah, 54, pedagang sembako di Pasar Pakem, Sleman kemarin.

Lonjakan harga disebabkan makin tingginya permintaan. Kendati demikian, Sujinah merasa pasokan telur relatif lancar. Demikian pula cabai rawit merah. “Telur banyak permintaan untuk membuat kue,” sambungnya.

Harga komditas ayam pedaging juga merangkak naik. Sejak empat hari lalu. Dari Rp 33 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram. “Tiap akhir tahun (daging ayam, Red) memang selalu naik harga. Biasa itu,” ungkap Murwanti, 52, penjual daging ayam.

Kabiro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam DIJ Sugeng Purwanto mengklaim, kenaikan harga di pasar tradisional masih tergolong wajar. Terlebih mendekati hari Raya Natal. Untuk menjaga stabilitas harga sembako pemerintah akan melakukan intervensi lewat operasi pasar. Guna menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Sekaligus menjaga pasokan dan distribusi produk.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menilai, tingginya permintaan sembako datang dari pelaku usaha pariwisata. Termasuk restoran dan perhotelan. Pembelian produk lebih banyak dibanding hari biasa. Untuk persediaan jangka lama. “Karena Sleman jadi jujugan wisatawan. Apalagi sedang musim liburan,” ungkapnya.

Soal lonjakan harga cabai rawit merah, Heru mengaku telah melakukan upaya antisipasi. Heru mengimbau para petani yang mendapat bantuan bibit. Agar tidak menjual hasil panen terlalu tinggi. “Itu ketika lonjakannya makin tinggi dan tak terkendali,”ucapnya.

Sementara ihwal lonjakan harga telur dan daging, menurut Heru, akibat harga pakan yang juga merangkak naik. Apalagi 90 persen komposisi pakan ayam petelur maupun pedaging merupakan bahan impor. Mengenai hal ini Heru mengaku telah berkoordinasi dengan Bulog untuk menekan harga telur dan daging. Solusinya, peternak ayam akan digelontor bantuan pakan. Jagung. Dengan harapan harga jual dari petani turun. Sehingga harga jual telur dan daging di pasaran kembali stabil.

Di Gunungkidul harga cabai rawit merah seragam dengan Sleman. Rp 25 ribu per kilogram. Pun demikian kenaikan harganya. Rp 5 ribu. Hanya, untuk telur kenaikannya tak setinggi di Sleman. Per kilogram hanya naik Rp 2 ribu. Menjadi Rp 22 ribu. “Paling mahal cabai. Kenaikannya paling tinggi,” kata Hartati, 44, pedagang Pasar Argosari, Wonosari.

Kasi Distribusi dan Perdagangan, Dinas Perindistrian dan Perdagangan Gunungkidul Sigit Purwanto menyatakan, kenaikan harga sebagian produk sembako belum begitu mempengaruhi stok yang tersedia. “Stok bahan pokok aman. Kalaupun ada lonjakan harga tidak begitu signifikan,” klaimnya.

Kabid Perdagangan Yuniarti memastikan kebutuhan masyarakat masih tercukupi. Termasuk gas elpiji tiga kilogram. Yuniarti mengklaim, gas melon bersubsidi cukup mudah diakses masyarakat. “Sejauh ini belum ada laporan kelangkaan. Sampai akhir tahun stok aman,” ujarnya. (har/gun/yog)