GUNUNGKIDUL – Disiram air, dipukuli, hingga dijadikan tempat duduk (dilungguhi). Itulah serangkaian tes yang dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Gunungkidul untuk menguji kekuatan kotak suara Pemilu 2019 kemarin (19/12). Dari hasil tes ini, Bawaslu mengklaim bahwa kotak suara berbahan karton kedap suara itu aman. Alias tahan banting.

Kendati begitu, salah satu penyelenggara pemilu ini mewanti-wanti Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gunungkidul memperhatikan kondisi gudang penyimpanan logistik. Sebab, kotak suara maupun logistik yang lain bakal tersimpan di gudang KPU cukup lama. Sekitar tiga bulanan.

”Tinggal bagaimana nanti dilakukan pemeriksaan rutin guna memastikan kondisi kotak suara,” jelas Komisioner Bawaslu Gunungkidul Bidang Hubungan Masyarakat dan Hubungan Antarlembaga Rosita usai menguji kekuatan kotak suara di halaman kantor KPU Gunungkidul.

Rekomendasi itu diberikan setelah Bawaslu memeriksa gudang logistik. Menurutnya, kotak suara masih dalam kondisi terlipat. Juga terbungkus plastik. Ribuan kotak suara itu tertumpuk rapi. Tak ada satu pun yang menyentuh lantai.

Saat pengujian, bagian bawah kotak suara sempat terbuka. Setelah kotak suara disiram air. Kendati begitu, Komisioner KPU Gunungkidul Andang Nugroho memastikan hal tersebut bukan persoalan. Lantaran kabel tis yang berfungsi sebagai pengikat belum terpasang.

”Kabel ini kalau dilepas secara ilegal pasti meninggalkan jejak,” ucap Andang menyebut salah satu kelebihan kotak suara Pemilu 2019.

Kendati begitu, Andang tetap meminta tim sukses kedua pasangan capres-cawapres ikut mengawasi jalannya pemungutan hingga penghitungan suara.

Disinggung mengenai rekomendasi Bawaslu, Andang tak menampik bahwa gudang logistik memang perlu pemeliharaan ekstra. Sebab, logistik pemilu yang tersimpan di gudang juga berpotensi diserang rayap.

”Ada lima petugas yang dipersiapkan menjaga gudang,” katanya.

Khusus pengawasan, Andang menyebut Polres Gunungkidul telah menerjunkan sejumlah personel bersenjata lengkap untuk berjaga-jaga di kantor KPU. (gun/zam)