SLEMAN – Paguyuban Kawasan Malioboro berharap dapat dilibatkan dalam revitalisasi kawasan pedestrian Malioboro. Sehingga bisa bersama-sama menjaga Malioboro sebagai tempat mencari pendapatan. Termasuk dalam upaya menjaga kebersihan ikon pariwisata di Kota Jogja tersebut. Terlebih memasuki musim liburan akhir tahun.

Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro Sujarwo Putra menyadari, bahwa Malioboro memiliki dinamika yang berubah terus. Termasuk proyek penataan yang saat ini sedang dilakukan juga disadari oleh para pedagang di dalamnya. Sedangkan isu yang ramai dibahas saat ini adalah mengenai kebersihan dan keindahan.

Jarwo, sapaannya, mengatakan, pedagang terutama pedagang kaki lima (PKL) juga menyusun konsep untuk nantinya dibahas bersama stakeholder, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita).

”Konsep Malioboro harus dipandang sebagai pusat perbelanjaan besar yang buka 24 jam. Karena itu kebersihan juga harus 24 jam,” ungkapnya saat menyambangi Radar Jogja, Kamis (20/12).

Dalam kunjungan tersebut juga ada perwakilan 8 komunitas pedagang di Malioboro. Mereka menilai, dengan kondisi saat ini, diakui bahwa petugas kebersihan di Malioboro tidak sebanding dengan volume sampah yang terus diproduksi. Sehingga mereka berinisiatif untuk menambah jumlah sif petugas smapah. Dari sebelumnya tiga sif menjadi dua kali lipatnya.

Rencananya, pada awal tahun 2019, penambahan sif akan dilakukan uji coba dengan biaya swadaya dari para pedagang. Meskipun ke depannya mereka berharap, pemerintah melalui Dana Keistimewaan dapat menambah petugas kebersihan agar ikon pariwisata Jogjakarta tersebut tetap bersih dan indah. ”Dimulai dari sisi barat Kepatihan,” ujar Jarwo.

Ketua Paguyuban Pelukis, Perajin, dan PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni) Slamet Santoso mengatakan, pemerintah sudah membangun fisik Malioboro dengan baik. Pihaknya juga terus memperbaiki diri agar mengimbangi dan berbenah diri. Dia menyoroti, kendala pada masa liburan adalah kunjungan yang membeludak. Sehingga membuat kesulitan mendapatkan parkir.

”Kantong parkir bisa ditambah agar pengunjung juga bisa masuk Malioboro, karena sudah jauh-jauh ke Jogja kan sayang kalau tidak ke Malioboro. Perlu saling sinergi dengan pemerintah dengan komunikasi dan diskusi,” imbuhnya. (riz/ila)