PURWOREJO – Teknologi perlintasan sebidang dengan membangun overpass dengan material baja ringan diujicobakan pertama kali di Purworejo. Ini akan menjadi pilot project dari beberapa pembangunan model sejenis yang akan dikembangkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan, di seluruh Indonesia.

Overpass yang akan menjadi akses utama masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Butuh ini memangkas jarak sekitar 17 kilometer menuju ke jalan nasional Purworejo-Kebumen. Rencananya pembangunan ini akan memakan waktu antara 9-10 bulan ke depan, dan pelaksanaanya lebih cepat dibandingkan pembangunan overpass yang pernah dilakukan karena akan memanfaatkan bahan-bahan pabrik.

Hal itu disampaikan Dirjen Perkeretaapian Zulfikri saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan overpass di Desa Tegalgondo, Kecamatan Butuh, Purworejo bersama Wakil Bupati Yuli Hastuti dan anggota DPR RI Sudjadi Anggoro Kamis (20/12).

“Kita memiliki sedikitnya 3.456 perlintasan sebidang di seluruh jaringan kereta api,” tutur Zulfikri.

Menurutnya, perlintasan sebidang ini menjadi perhatian khusus, sebagai upaya untuk merealisasikan zero accident di jaringan jalan kereta api di seluruh Indonesia. Jika jalan-jalan nasional menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, di mana sudah diselesaikan dengan beberapa langkah, seperti pembuatan pintu perlintasan dan overpass. Untuk perlintasan yang ada di jalan-jalan provinsi dan kabupaten saat ini masih dilakukan pembahasan.

“Kami sedang menyusun road map to zero accident untuk perlintasan sebidang ini. Dan salah satu modelnya seperti yang kita lakukan hari ini (Kamis 20/11, Red),” tambah Zulfikri.

Dikatakan, overpass yang dibangun di Tegalgondo itu memanfaatkan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP). Materialnya adalah beton ringan dengan lengkung baja. Kualitasnya tetap unggul, dikerjakan secara fabrikasi dan menghemat material cukup banyak.

“Teknologi ini bisa menghemat biaya hingga 30 persen,” imbuh Zulfikri seraya mengatakan panjang overpass Tegalgondo nantinya 340 meter.

Lebih jauh Zulfikri mengatakan, pemerintah pusat memang tengah fokus membangun jalur ganda kereta api lintas selatan Jawa. Dan pembangunan itu membawa dampak hilangnya keberadaan perlintasan sebidang di kawasan tersebut.

“Overpass ini kami harapkan agar mobilitas masyarakat dapat terus berlangsung tanpa bersinggungan dengan perjalanan kereta api,” katanya.

Wakil Bupati Yuli Hastuti memberikan dukungan bagi pembangunan overpass itu. Pihaknya berharap nantinya akan disusul dengan pembangunan overpass lainnya di Purworejo, sehingga akses masyarakat bisa lebih cepat dan tidak terlalu banyak memutar karena terhadang jalur kereta api.

Camat Butuh Wasith Diono mengatakan, adanya perlintasan Tegalgondo memang akan menolong akses masyarakat, setidaknya masyarakat delapan desa di wilayahnya. Ke delapan desa itu meliputi Desa Tegalgondo, Polomarto, Tlogorejo, Kunirejo Kulon, Wonorejo Kulon, Kunirejo Wetan, Lubang Dukuh, dan Tunggal Roso.

“Jarak jalan nasional sampai rel ganda ini hanya 200 meter. Tapi adanya rel ini juga membuat warga harus memutar sejauh 17 kilometer untuk mencapai jalan nasional. Overpass ini sangat membantu masyarakat,” kata Wasith. (udi/laz/fn)