KULONPROGO – Pemerintah pusat terus mendorong percepatan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo. Para menteri pun silih berganti mendatangi proyek mercusuar itu. Untuk memantau perkembangannya. Guna memastikan NYIA benar-benar siap untuk pendaratan pesawat per April 2019.

“Bandara ini harus tuntas pengerjaannya akhir 2019. Maksimal awal 2020,” tegas Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat meninjau proyek NYIA Kamis (20/12). Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karyadi Sumadi mengunjungi proyek NYIA Jumat (14/12).

Untuk percepatan pembangunan NYIA, kata Luhut, diperlukan penambahan jumlah pekerja. Tak tanggung-tanggung. Menurutnya, per Januari 2019 akan ada tambahan ribuan pekerja proyek bandara. Total menjadi 6 ribu orang. Dari jumlah saat ini yang hanya 2.200 orang. Mereka akan bekerja 24 jam nonstop dengan sistem sift.

Menurut Luhut, dengan tambahan amunisi baru PT Angkasa Pura (AP) I optimistis pembangunan NYIA tahap pertama rampung antara 7-9 April 2019. Dan memungkinkan untuk pendaratan perdana pesawat penerbangan internasional. Luhut juga mendapat laporan jika pengerjaan terminal secara keseluruhan ditargetkan November 2019. Tapi dia minta lebih maju. Yakni Oktober 2019.

Meski tenggat waktu pengerjaannya cukup terbatas. PT Pembangunan Perumahan (PP) selaku pelaksana proyek diminta terus bekerja optimal, teliti, dan menjaga mutu. Luhut mewanti-wanti PT PP tetap berhati-hati dalam setiap detail proyeknya. Khususnya dalam menjaga kualitas bangunan maupun konstruksinya. “Runway-nya harus bagus. Karena pesawat terbesar dan terberat dengan kapasitas maksimal penumpang yang akan mendarati NYIA,” ucapnya.

Jika semua lancar, sebagai bandara internasional, Luhut memprediksi NYIA akan lebih baik dibanding Ngurah Rai, Bali. NYIA nantinya akan didukung moda transportasi kereta api (KA). Target operasinya berbarengan dengan pendaratan perdana pesawat. April 2019. KA akan berhenti dari Stasiun Wojo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dengan waktu tempuh sekitar 10 menit dari NYIA.

“Jaringan kereta api pendukung akan selesai secara keseluruhan pada akhir 2019,” ujarnya.

Luhut optimistis jumlah turis yang berkunjung ke DIJ akan meningkat hingga dua kali lipat setelah NYIA beroperasi. Itu menjadi “PR” pemerintah daerah di DIJ untuk mengantisipasi lonjakan jumlah wisatawan.

Di bagian lain, Luhut menyebut kebutuhan listrik operasional NYIA tahap pertama 8,8 megawatt. Sementara PLN Jateng-DIJ hanya bisa menyuplai 6,4 megawatt. Untuk menambah kekurangan suplai listrik NYIA, menurut Luhut, PT PP lah yang akan membantu pendanaan PLN. “Sejauh ini tidak ada masalah (listrik, Red). Kalau ada masalah kami akan telepon direktur utama PLN,” janjinya.

Pimpinan Proyek NYIA PT AP I Taochid Purnama Hadi menambahkan, secara temporer kebutuhan listrik NYIA mencapai 8,66 megawatt. Secara bertahap suplai listrik akan ditambah 12 megawatt hingga 2020.

“Saat ini sudah dilakukan pekerjaan jaringan listrik. Pemindahan jalur dan penyambungan baru,” ungkapnya.

Dikatakan, hingga kemarin progres pembangunan NYIA mencapai 22 persen. Mengejar target operasional April 2019, Taochid fokus pekerjaan area airside. Seperti landasan pacu, taxiway, dan apron. Sedangkan area landside difokuskan terminal, main power house, ground water tank, tower, kargo, menara air traffic control (ATC), dan gedung administrasi.

“Fuel hydrant system masih baru. Akan beroperasi optimal 2020. Namun Pertamina telah menyiapkan mobil untuk suplai bahan bakar pesawat selama masa operasi NYIA 2019,” ungkapnya.

Disinggung soal proyek underpassi pendukung NYIA, Taochid menyebut, akan dikerjakan PT Wijaya Karya. Dibangun 11 zona. Di awal operasional NYIA zona 9 dan 3 ditargetkan selesai. Sehingga bagian atas underpass bisa dilalui kendaraan. “Kalau keseluruhan Jalan Daendels pada 2020,” kata Taochid. (tom/yog/fn)