Namanya KPK. Bukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Melainkan Komunitas Pit Kajor. Meski bukan penindak rasuah, KPK asal Dusun Kajor, Gamping, Sleman itu punya misi dan semangatnya sama. Antikorupsi.

FAIRIZA INSANI, Sleman

MEREKA berharap Indonesia bersih. Bebas korupsi. Mereka pun merasa punya kepentingan untuk menggolkan harapan itu. Menyelipkan pesan-pesan antikorupsi di sela mengikuti berbagai event. Mengendarai sepeda onthel, anggota KPK sering keliling Jogjakarta. Bukan sepeda onthel biasa. Tapi dihias dengan pernik-pernik aneka macam handycraft. Dari bahan-bahan bekas.

Seperti tutup botol, boneka, hingga plastic kresek. Tak lupa mereka memasang tulisan di papan. Yang ditempelkan di bagian belakang sepeda. Seperti kata-kata “Bojo Ngomel Sing Penting Ngonthel.” Karena itulah keberadaan mereka kerap mengundang tawa. Apalagi penampilan mereka saat beraksi. Tampil menyerupai badut. Muka dilumuri warna putih. Bibir diwarnai merah. Melebar.

Hingga tampak dower. Tak ada rasa malu. Yang ada canda tawa. Tak pelak penampilan Agus pagi itu mengundang perhatian masyarakat. Ibu-ibu dan anak-anak bahkan mengajak mereka berswafoto. Dengan pit unik sebagai latarnya. Begitulah mereka. Anggota KPK Gamping. Sambil ngonthel mereka menyambangi satu acara ke acara lain. Tujuannya satu. Menyampaikan pesan-pesan antikorupsi.

“Kami mendukung pemerintah dalam memberantas korupsi di negeri ini,” ujar Agus Mariadi, anggota Komunitas Pit Kajor, akhir pekan lalu.

Unik dan nyentrik. Cara itu diakui Agus yang bisa menarik perhatian masyarakat. Untuk menghampiri mereka. Kemudian ngobrol ngalor-ngidul. Saat itulah Agus dan sejawatnya membumbui obrolan dengan semangat antikorupsi. “Sengaja dirancang seperti itu. Supaya meriah. Orang senang melihatnya,” tutur Agus, diamini Surono, sesama anggota KPK.

Soal pernik-pernik pit onthel pun ada maknanya. Penggunaan barang-barang bekas sebagai hiasan dianggap sebagai bagian kampanye kebersihan lingkungan. Sekaligus menunjukkan kepada masyarakat. Bahwa barang-barang bekas tak serta merta harus dibuang. Karena bisa dimanfaatkan. Untuk keperluan lain.

Bicara KPK, komunitas ini mereka dirikan pada 2012. Jumlah anggotanya terus bertambah. Setiap tahun. Agus bahkan tak tahu jumlah pasti anggotanya. Sebab, Komunitas Pit Kajor tak pernah mewajibkan setiap anggotanya untuk selalu hadir. Mengikuti acara-acara ngonthel nyeleneh itu.

“Siapa yang bisa ikut ayo, mangga,” kata Agus.

Saat berbincang dengan Radar Jogja, Agus mengaku baru saja menempuh jarak 14 kilometer. Gowes. Dari wilayah Godean ke Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman.

Keduanya tak merasa lelah. Sarena sudah biasa. “Kami senang-senang saja,” kata Surono. Dia dan Agus bahkan masih sempat berjoged bersama masyarakat yang hadir di acara funbike. Kala itu.

Lewat aksinya, Agus berharap ke depan lebih banyak orang peduli kelestarian lingkungan. Melalui aktivitas bersepeda, Agus ingin menggugah semangat warga terhadap kesehatan. Serta menghindari pencemaran udara. Tak lupa pula dia mengingatkan seluruh lapisan masyarakat, juga pemerintah, menjauhi tindakan korupsi. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. (yog/fn)