SLEMAN – Gubernur DIJ, Hamengku Buwono (HB) X mengatakan aksi klithih yang dilakukan anak muda disebabkan karena pelaku tidak mendapat perhatian orang tuanya. ‘’Pelaku masih remaja. Orang tua memiliki andil untuk mengarahkan anaknya,’’ ujar HB X usai apel Operasi Lilin Progo 2018 di Mapolda DIJ, Jumat (21/12).

HB X menilai, minimnya komunikasi antara anak dan orang tua menjadi salah satu penyebab kenakalan remaja. Anak mencari alternatif dan pelarian di luar rumah, salah satunya dengan melakukan klithih.

“Orang tua kadang membebaskan anak laki-lakinya. Bisa juga, di keluarganya belum terbangun dialog yang baik antara anak dan orang tuanya,” kata HB X.
Dikatakan, dialog bukan sekadar ngobrol. Perbincangan positif menjadi kunci keharmonisan keluarga. Bagi anak, dialog menjadi wadah curahan hati. Atas persoalan yang anak alami.

Orang tua hadir sebagai sosok yang melindungi dan mengayomi anak. “Kalau pergaulannya salah, anak bisa lepas kontrol. Kalau komunikasinya aktif, bisa diantisipasi. Sekolah, melalui guru, juga wajib membangun dialog dengan anak,” pesan HB X.

Dia mengakui adanya perubahan pola pergaulan remaja di Jogjakarta. Dari beberapa kasus kejahatan jalanan, mayoritas pelakunya remaja.

“Rata-rata klithih dilakukan anak SMP. Namun tidak menghentikan langkah tegas (polisi). Beberapa kasus, jika terbukti melanggar hukum, tetap ditindak. Tetap ada proses pengadilan, agar mereka menyadari apa yang dilakukan salah,” kata HB X.

Kapolda DIJ, Brigjen Polisi Ahmad Dofiri memastikan langkah tegas terhadap pelaku klithih. Jajarannya giat berpatroli. Namun, pelaku memanfaatkan kelengahan polisi.

Mereka menunggu suasana lengang. Beraksi pada jam-jam tertentu yang sepi. Pencegahan terus dilakukan polisi. Pihaknya merespons cepat informasi dan laporan warga. Dofiri meminta warga tidak main hakim sendiri jika menemukan kasus klithih.

“Selama ini, (pelaku klithih) selalu kami tindak. Tidak ada toleransi. Kami tangkap pelakunya. Proses hukum jalan. Kami bergerak, tapi tidak semua kegiatan polisi dikabarkan terbuka,” ujar Dofiri. (dwi/iwa/fn)