JOGJA- Revitalisasi Malioboro menjadi kawasan semipedistrian, serta penataan jalur pedestrian di Jalan Suroto Kotabaru rampung berasmaan. Dua kawasan khusus untuk pejalan kaki itu diresmikan oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X Jumat (21/12).

“Tahun depan dilanjutkan hingga Jalan Sudirman dan Diponegoro serta kawasan Kotagede,” ujar HB X saat meresmikan jalur pedestrian di Jalan Suroto Kotabaru Jumat malam (21/12).

Menurut HB X sasaran penataan difokuskan pada lima kawasan cagar budaya yang ada di Kota Jogja. Yaitu kawasan Kotabaru, Kotagede, Malioboro, Keraton dan Pakualaman. Itu yang dititipkannya pada Pemkot Jogja. “Saya berharap Pemkot dapat terus melestarikan kawasan cagar budaya (heritage) yang ada di Jogja. Salah satunya (Kotabaru) dengan mempertahankan bangunan Indische. Semua ini untuk memberikan nilai bahwa heritage sebagai obyek wisata budaya,” katanya.

Harapan yang sama juga pada kawasan Malioboro. Menurut HB X, revitalisasi Malioboro akan berlanjut. Ke depan dilanjutkan dengan penataan fasad. Papan-papan toko di sepanjang Malioboro bakal di tata ulang. Tidak lagi menutupi bangunan. “Tulisannya ada di bawah,” ungkap raja Keraton Jogja. Penataan fasad itu dibutuhkan karena bangunan di Malioboro mempunyai banyak corak. Ada yang bergaya indische, Tiongkok dan Jawa. Aset heritage itu harus ditata.

HB X berharap dengan selesainya revitalisasi itu, Malioboro menjadi makin bersih dan nyaman. Dia mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan di Malioboro ikut menjaga kebersihan Malioboro. “Kalau buang sampah buanglah di tempat. Jangan kotori Malioboro,” pintanya.

Selesainya revitalisasi Malioboro dan Jalan Suroto, dimaknai Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti sebagai hadiah bagi masyarakat Jogja. Sama dengan HB X, Haryadi juga berharap seluruh lapisan masyarakat juga mampu ikut menjaga pedestrian ini. “Mari bersama-sama kami resmikan. Mari kira menjaga dan memeliharanya,”

Selesainya penataan sisi barat Malioboro. Trotoar sisi barat semula untuk kendaraan nonmotor. Seperti becak, andong dan pesepeda. Kini telah berubah fungsi. Seluruhnya dimanfaatkan bagi pejalan kaki. “Pembangunan Malioboro sebagai pedestrian ini telah dimulai sejak 2016,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUP dan ESDM DIJ M. Mansur.

“Revitalisasi ini menghabiskan anggaran Rp 37 miliar dari dana keistimewaan,” lanjutnya. Dengan selesainya revitalisasi sisi barat itu, maka penataaan Malioboro telah selesai. Ini sekaligus melengkapi revitalisasi sisi timur yang telah dilakukan lebih awal. Yakni pada 2016 dan 2017. Peresmian revitalisasi Malioboro itu juga dibarengkan dengan selesainya pembangunan pintu barat kompleks Kepatihan. Bedanya kegiatannya tidak dikerjakan Dinas PUP dan ESDM DIJ. Tapi digarap Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ. “Anggarannya mencapai Rp 1,3 miliar,” terang Mansur.

Sedang untuk pekerjaan pembangunan jalur pedestrian di Jalan Suroto, yang juga menggunakan Danais, menghabiskan anggaran Rp 11,5 miliar. Kepala Binamarga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kota Jogja Umi Akshanti mengatakan jalur pedestrian di Jalan Suroto dikonsep ramah difabel. Konsep serupa akan diterapkan di jalur pedestrian lainnya di Kota Jogja.

“Konsep disini pengguna kendaraan yang seharusnya menghargai pejalan kaki. Harapannya ada kesadaran masyarakat untuk bisa memberi kenyamanan bagi pejalan kaki termasuk disabilitas,” tuturnya. (kus/cr5/pra/fn)