Soedrajad Batik dikenal dengan produk dengan teknik capnya. Motif khasnya menyerupai huruf S dan D. dengan pakem kawung. Minimalis dan elegan. Namun tetap modern. Sesuai selera anak muda zaman now.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

Workshop batik di Gonalan, Ngasem, Timbulharjo, Sewon, Bantul, ini tak pernah sepi pengunjung. Tak sedikit kawula muda mendatangi tempat produksi sekaligus show room Soedrajad Batik. Adalah Sukinah Sri Rejeki. Sang pencetus brand ini. Itulah nama lengkapnya. Meski sehari-hari dipanggil Prapti. Usianya 50 tahun. Bicara soah brand, Soedrajad merupakan nama anak semata wayangnya. Yang kini kuliah di UGM. Dengan label itu, prapti berharap, sang anaklah yang akan meneruskan usahanya.

Awalnya Prapti tak pernah berpikir membuka butik. Dia mengawali karir sebagai desainer logo. Kata “Soedrajad” pun dibuat logo.

”Saya otak-atik. Dibikin semenarik mungkin. Eh, ketemunya huruf S dan D. Terbersit dibikin motif batik,” kenang Prapti saat berbincang dengan Radar Jogja Minggu (23/12).

Setelah mendapatkan rasa, dengan ikon S dan D itu, mulailah Prapti membuka usaha kain batik. Pada 2000 silam. Dipadu pakem kawung, produk batik karyanya ternyata menarik perhatian pelanggan. Terlebih, Prapti juga menyediakan jasa desain sekaligus konveksi. Sehingga pelanggan bisa pesan motif, sekaligus desain baju sesuai selera.

Seiring waktu berjalan usaha it uterus berkembang. Prapti tak ingin sukses sendiri. Dia pun mengajak tetangga kiri kanan bergabung. Meski sekadar sebagai tukang jahit baju. “Saya latih dulu mereka sampai benar-benar bisa menjahit,” ungkap perempuan paro baya itu.

Semangatnya begitu tinggi. Untuk mengembangkan usaha batik. Dibangunlah sebuah butik. Pakaian pria maupun wanita. Jumlah karyawan pun bertambah. Kini Prapti mempekerjakan sedikitnya 13 orang. Semuanya ahli di bidang masing-masing. Bukan sekadar menjahit. Ada yang ahli canting, membuat motif, desain, dan pola, hingga mengecap.

Di tengah kesibukannya Prapti masih menyempatkan diri membuka kursus menjahit. Gratis. Bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya. Dia sangat berharap orang lain mengikuti jejak suksesnya. Apa yang dilakukannya saat ini dianggap sebagai bumbu semangat. Bagi kaum Hawa. “Perempuan bisa membantu suami memutar perekonomian menjadi lebih baik,” tutur Prapti.
Kini omzetnya bisa puluhan juta per bulan. Produknya pun tak hanya merambah pasar lokal Jogjakarta. Tapi telah merambah kota-kota besar di Indonesia.

Untuk menarik minat pelanggan, Prapti mencoba inovasi baru. Dengan batik kontemporer. Harga jual produknya bervariasi. Mulai Rp 125 ribu hingga Rp 600 ribu. Cukup terjangkau bagi kalangan menengah. Sedangkan jasa jahit dipatok Rp 150 ribu untuk desain basic. Semakin rumit desainnya, ongkos pun lebih mahal. “Termahal untuk ongkos jasa jahit pernah lebih dari Rp 1 juta. Desainnya sangat rumit,” katanya.

Tak ada kesuksesan yang mudah diraih. Pun demikian liku-liku usaha yang digeluti Prapti. Siapa sangka di balik kesuksesannya saat ini Prapti merupakan salah seorang korban gempa dahsyat yang mengguncang Bantul pada 2006 silam. Saat usahanya sedang gencar. Gempa memupuskan impiannya kala itu. Rumahnya roboh. Rusak total. Hanya beberapa mesin jahit berhasil diselamatkan. “Saya gadai motor, emas, dan apa yang saya punya untuk membayar pegawai dan modal,” kenangnya.

Hanya tiga harapan utamanya saat itu. Bisa bertahan hidup. Bisa memuaskan pelanggan. Dan dapat mempertahankan seluruh karyawan setia.

Prapti memutar otak. Segera mencari tempat aman. Untuk hidup. Dan melanjutkan usahanya. Hingga didapat sepetak kios di Jalan Godean, Sleman. Tempat inilah energi baru usahanya. Untuk bangkit. Dari keterpurukan.

Dirundung rasa tanggung jawab kepada klien, Prapti tak mau berkeluh kesah sebagai korban gempa. Semua pesanan dia selesaikan. Sesuai target waktu. ”Saya ajak tujuh karyawan ke Godean, Sleman. Semua kain jahitan dan perabot dibawa. Bantul mati listrik total hingga dua mingguan,” ujarnya.

Kesuksesan yang diraih saat ini berkat perjuangan panjang itu. Tak menyerah dengan keadaan. Hasilnya bisa dilihat sekarang. Prapti tak hanya mampu bangkit. Tapi meraih kejayaan. (yog/fn)