SLEMAN – Memasuki liburan Natal dan Tahun Baru 2019 (Nataru) terjadi peningkatan kunjungan wisata di kawasan lereng Gunung Merapi. Berdasarkan pemantauan, mayoritas wisatawan berasal dari luar Jogjakarta. Baik wisatawan keluarga maupun rombongan.

Kepala Seksi (Kasi) Analisis Pasar, Dokumentasi dan Informasi Pariwisata, Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto mengakui terjadi peningkatan pengunjung ke Kaliurang. Imbauan telah diberikan kepada pengelola wisata dan penginapan terkait pelayanan optimal. Paling utama, memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan.

“Ada peningkatan signifikan. Baik melalui jalur Pakem maupun Cangkringan. Terlebih masa liburan dimulai sejak beberapa hari lalu,” kata Kus, Selasa (25/12).

Data Dinas Pariwisata Sleman menyebutkan, sebanyak 7.759.296 wisatawan mampir Sleman hingga akhir November. Jumlah tersebut dipastikan bertambah. Terlebih banyaknya event akhir tahun. Bakal menarik kunjungan wisatawan

Dispar Sleman menargetkan 8 juta wisawatan datang ke Sleman hingga akhir 2018. Beragam acara wisata digelar untuk mengejar target. Festival Merapi telah berlangsung hingga 23 Desember. Saat ini, masih berlangsung Festival of Light hingga 7 Januari 2019 di Gardu Pandang Kaliurang.

“Untuk periode 20-25 Desember, total wisatawan masuk ke Kaliurang melalui gerbang timur sebanyak 15.939. Puncak kunjungan terjadi Senin (24/12), sebanyak 4.542 wisatawan,” ujar Kus.

Aktivitas Gunung Merapi yang mengeluarkan lava pijar ternyata tidak berdampak pada jumlah kunjungan wisata. Jumlah wisatawan tergolong masih stabil. Bahkan antrean kendaraan roda empat terlihat di pintu masuk Kaliurang Selasa (25/12).

Petugas jaga pos Pengamatan Gunungapi Merapi (PGM) Kaliurang, Lasiman HS memastikan kondisi Merapi kondusif. Meski berstatus level II atau waspada, tidak ada aktivitas Merapi yang menonjol. Terjadinya guguran lava merupakan aktivitas normal sebuah gunung berapi.

“Seperti tadi dini hari (Selasa 25/12) sempat terjadi guguran lava pada pukul 00.10 dengan durasi 38 detik. Jarak luncur sekitar 300 meter,” ujar Lasiman.

Saat tengah berbincang dengan Radar Jogja, tiba-tiba seismograf mencatat sebuah guguran. Namun pandangan visual tertutup kabut tebal. Pria yang disapa Mbah Pecut tersebut memastikan kondisi aman. Karena pergerakan guguran terpantau closed circuit television (CCTV) puncak di Puncak Merapi dan seismograf.

Aktivitas Merapi dan jarak luncuran lava relatif aman. Karena, rata-rata luncuran lava masih di bawah 500 meter. Jarak ini masih jauh dari jarak aman Gunung Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menetapkan jarak aman tiga kilometer dari puncak Merapi.
Berdasarkan data BPPTKG, volume kubah lava mencapai 370 ribu meter kubik. Pertumbuhan harian kubah lava mencapai 2 ribu meter kubik. Volume pertumbuhan harian fluktuatif.

“Luncuran lava rata-rata mengarah ke tenggara. Tepatnya Kali Gendol. Kalau cuaca cerah, sebenarnya bisa dinikmati proses guguran lava ini. Apalagi tipikal erupsi Merapi kali ini efusif,” kata Mbah Pecut. (dwi/iwa/fn)