SLEMAN – Keberadaan “Pak Ogah” sebagai pengatur lalu lintas jalan raya terus menuai pro kontra. Sosok yang dikenal dengan slogan “Cepek dulu” dalam serial TV Boneka Si Unyil itu kini diidentikkan dengan para pengatur lalu lintas dadakan. Sebagian pengguna jalan merasa sangat terbantu. Dengan kehadiran Pak Ogah. Tapi tak sedikit pula yang menganggap keberadaan mereka cukup meresahkan.

Terlebih di musim liburan saat ini. Kemacetan arus lalu lintas terjadi di banyak titik. Pak Ogah pun muncul di mana-mana. Paling banyak di persimpangan jalan tanpa traffic light. Atau devider tengah jalan di titik U turn.

Lepas pro dan kontra Pak Ogah, Kepala Dinas Perhubungan Sleman Mardiyana menegaskan, keberadaan mereka menjadi pengatur lalu lintas adalah ilegal.Kendati demikian, selama Pak Ogah tidak memaksa meminta uang kepada para pengendara kendaraan, menurut Mardiyana, masih bisa ditoleransi. “Prinsipnya mereka tidak meminta (uang, Red) kepada pengendara,” tegasnya Selasa (25/12).

Di sisi lain, keberadaan Pak Ogah ibarat buah simalakama. Menurut Mardiyana, mereka sejatinya bisa membantu kerja aparat kepolisian dalam pengaturan lalu lintas jalan. Itu mengingat keterbatasan personel di lapangan. Terlebih saat musim liburan seperti saat ini. Pak Ogah bisa sangat membantu.

Dari pantauan Radar Jogja, Pak Ogah biasa beroperasi ketika siang dan sore. Setiap hari. Di titik-titik krodit macet. Mereka seolah memiliki area khusus sendiri-sendiri. Untuk mangkal. Seperti di sepanjang Ring Road Utara. Hampir di setiap titik U turn terdapat Pak Ogah.

Ternyata tak semua Pak Ogah berharap mendapat imbalan. Bahkan tak sedikit yang menjalani “profesi” itu sebagai aksi sosial. Atau sekadar untuk mengisi waktu luang. Seperti Doni Kristiawan, 43. Warga Maguwojarjo, Depok, Sleman itu biasa mangkal di Simpang Tiga Gandok, Condongcatur, Depok. Dia menjadi Pak Ogah sejak tujuh bulan terakhir. “Saya biasanya nguli bangunan. Kalau senggang baru mangkal,” ungkapnya.

SUKA RELA: Pak Ogah nampak sedang mengatur lalu-lintas di simpang tiga Padukuhan Gandok Condongcatur Selasa (25/12). (ELANG KHARISMA D/RADAR JOGJA)

Doni biasanya mangkal selama empat jam. Pada pukul 17.00 – 21.00. Tergantung cuaca. Saat cuaca cerah Doni bisa mengantongi Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. “Tapi saya tidak minta. Dikasih syukur, kalau nggak dikasih ya tak apa-apa. Yang jelas tidak memaksa, apalagi mengancam,” ucapnya.

Mengenai seni mengatur lalu lintas, Doni mengaku telah menguasainya. Dia belajar dari internet dan polantas. “Yang jelas saya hanya ingin membantu masyarakat. Agar tidak terjadi kecelakaan. Karena di sini (Gandok) sering terjadi kecelakaan,” bebernya.

Yogi Anugrah, 22, warga Depok, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Pak Ogah. Meskipun kemacetan panjang tetap sering terjadi. Akibat ketidakcermatan Pak Ogah mengatur arus kendaraan. “Mungkin karena mereka tidak pakai seragam, sehingga banyak pengendara mobil dan motor tak mau saling mengalah,” katanya. “Beda dengan polisi, pasti pengguna jalan langsung tertib,” sambung Yogi.

Terpisah, Dirlantas Polda DIJ Kombespol Tri Julianto Djati Utomo mengimbau pengendara mobil pribadi yang tidak akan menuju pusat Kota Jogja mengambil rute jalur alternatif. Hal itu guna menghindari terjadinya penumpukan kendaraan di jalur utama perkotaan. “Kadang ada yang sekadar melintas. Bukan liburan di Jogjakarta. Maka ada jalur alternatif untuk mengalihkan arus,” tuturnya.

Titik urai kemacetan di kawasan timur dimulai di Simpang Prambanan kea rah Piyungan. Atau Proliman, Kalasan. Sedangkan di sisi utara di Simpang Empat Tempel. Dirlantas memastikan rambu-rambu arah jalur alternatif telah terpasang. Di titik-titik strategis. Dan mudah terlihat pengendara mobil. Sebelum mendekati jalur alternatif terkait.

Tempel menjadi pintu masuk tujuan Klaten, Solo, maupun Purworejo. Pengendara dari arah barat bisa mengambil jalur Klangon, Argosari, Sedayu, Bantul. “Khusus jalur kawasan perkotaan akan diberlakukan sistem buka tutup jalur,” katanya.

Manajemen lalu lintas bersifat evaluatif. Setiap saat bisa dilakukan perubahan sistem. Disesuaikan dengan kondisi kepadatan arus kendaraan.

Julianto mewanti-wanti wisatawan untuk ekstra hati-hati ketika melintasi jalur perbukitan. Salah satunya di Mangunan, Dlingo, Bantul. Tiap musim liburan kawasan itu tergolong sibuk. Bahkan beberapa kendaraan besar nekat melintas meski ada larangan. Karena jalurnya sempit. Bus besar bisa menjadi kendala lalu lintas di kawasan itu. (har/dwi/yog/fn)